Papua Darurat Narkoba, Tokoh Agama Malah Teriak Merdeka

4_Darurat_NarkobaBadan PBB Untuk Kejahatan Narkoba atau United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) beberapa waktu lalu merilis data yang sangat mencengangkan terkait peredaran dan pengguna narkotika. Data tersebut menyatakan bahwa pengguna narkoba di Indonesia telah mencapai angka 5.060.000 orang, dengan rincian pengguna crystalline methamphetamine (sabu) 1,2 juta orang; cannabis (ganja) 2,8 juta orang; ekstasi 950 ribu orang; dan heroin 110 ribu orang. Selain dengan jumlah pengguna yang sangat besar, UNODC juga secara resmi menyatakan bahwa Indonesia merupakan jalur utama perdagangan narkoba internasional. Dengan jumlah pengguna yang sangat besar tersebut, secara otomatis menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial perdagangan narkoba.

Data yang dirilis oleh UNODC di atas memberikan gambaran bahwa konsumsi narkoba terbesar di Indonesia adalah jenis ganja (cannabis). Negara dengan wilayah trpis seperti Indonesia merupakan tempat yang sangat cocok untuk pertumbuhan ganja. Tidak mengherankan apabila kepolisian bersama-sama dengan pihak terkait seringkali menemukan ladang ganja yang sengaja ditanam oleh masyarakat. Upaya menekan peredaran narkoba jenis ganja dengan menghanguskan ladang ganja yang ditemukan tidak serta merta membuahkan hasil masksimal.

Salah satu Provinsi dengan tingkat peredaran narkoba jenis ganja yang cukup tinggi di Indonesia adalah Provinsi Papua. Selama bulan November 2015 saja, tercatat belasan orang ditangkap yang diduga telah melaukan penyalahgunaan narkoba jenis ganja. Pada tanggal 11 November 2015, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua mengamankan sembilan orang pemuda/pemudi dalam operasi atau razia penyalahgunaan dan peredaraan gelap narkotika di sejumlah tempat hiburan malam di Kota Jayapura yang terindikasi mengkonsumsi narkotika jenis ganja. Selanjutnya pada tanggal 17 November 2015, BNN Provinsi Papua kembali menangkap lima orang pengguna narkotika jenis ganja saat melakukan razia di tempat hiburan malam di wilayah Entrop Jayapura. Terakhir, pada tanggal 29 November 2015 tim gabungan BNN Provinsi Papua yang sedang melakukan operasi mempersempit daya gerak pengedaran narkotika kembali mengamankan empat orang pemuda di Kota Jayapura karena terindikasi mengkonsumsi narkotika jenis ganja.

Kenyataan tersebut menggambarkan bahwa saat ini Papua telah menjadi wilayah dengan klasifikasi darurat penyalahgunaan narkotika. Permasalahan tersebut tentu saja diperlukan perhatian serius dan penanganan secara khusus dari pemerintah. Selain pemerintah, dalam upaya penanganan penyalahgunaan narkotika di Papua, juga sangat diperlukan peran tokoh pemuda dan tokoh agama dengan menggunakan pendekatan secara persuasif kepada masyarakat.

Namun jika melihat realita yang terjadi di Papua saat ini, maka dapat dikatakan bahwa sangat kecil adanya kemungkinan bagi tokoh pemuda dan tokoh agama yang ada di Papua untuk turut serta mengambil peranan dan berkontribusi dalam penanganan masalah darurat narkoba di Papua. Kondisi tersebut mengingat bahwa sebagian besar tokoh pemuda dan tokoh agama di Papua cenderung lebih memikirkan kepentingan diri sendiri dengan melakukan tindakan-tindakan provokasi agar masyarakat Papua menyuarakan kemerdekaan seperti yang mereka inginkan.

Lebih dari itu, tokoh agama yang seharusnya memberikan pelayanan-pelayanan secara rohani kepada masyarakat (umat) untuk berbuat baik kepada sesama termasu untuk tidak menggunakan narkoba, namun justru melakukan tindakan-tindakan yang berbanding terbalik dengan predikat tokoh agama yang disandang. Tokoh agama di Papua dalam forum-forum keagamaan seringkali menanamkan rasa benci umatnya kepada pemerintah, memprovokasi umat untuk menolak kebijakan pemerintah, hingga yang paling parah adalah memprovokasi umat agar turut serta menyuarakan kemerdekaan dan keinginan untuk melepaskan diri dari NKRI.

Sangat menyedihkan memang ketika masyarakat Papua menggantungkan nasibnya kepada tokoh pemuda dan tokoh agama yang ada, mereka justru sibuk dengan kegiatan sendiri. Terdapat dugaan kuat bahwa tokoh pemuda dan tokoh agam di Papua mendapatkan keuntungan secara ekonomi ketika menyuarakan klaim kemerdekaan tersebut. Ambisi untuk mendapatkan kekuasaan telah membutakan mereka dan cenderung tidak perduli dengan kondisi masyarakat Papua. Padahal, seperti yang kita pahami bersama bahwa narkoba memiliki kontribusi yang sangat besar untuk dapat merusak mental penggunanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s