Upaya Pengalihan Isu Dugaan Korupsi Dibalik Tragedi Tolikara

Andi_1Masih tertanam kuat dalam ingatan kita tragedi menyedihkan yang terjadi di Tolikara yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri pada tanggal 17 Juli 2015 lalu. Pembubaran pelaksanaan Shalat Ied hingga terbakarnya musholla dan sejumlah kios di Distrik Karubaga Kabupaten Tolikara Provinsi Papua tersebut telah menimbulkan stigma catatan buruk toleransi antar masyarakat di Bumi Cendrawasih tersebut. Tragedi tersebut diduga dipicu oleh pengurus Gereja Injili di Indonesia (GIDI) wilayah Tolikara yang melarang pelaksanaan ibadah umat muslim di wilayah tersebut karena sedang dilaksanakan kegiatan Kongres Pemuda GIDI dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR).

Melihat kenyataan tersebut, banyak pihak yang beranggapan bahwa tragedi Tolikara tersebut murni merupakan konflik agama. Anggapan tersebut mungkin saja benar, mengingat bahwa pembubaran pelaksanaan Shalat Iedtersebut dilakukan oleh umat GIDI yang merepresentasikan perbedaan agama merupakan pemicu utama tragedi tersebut. Namun pada sisi lain, banyak pula pihak lain yang justru bertentangan dengan anggapan bahwa isu perbedaan agama dan keyakinan merupakan trigger pecahnya konflik horizontal tersebut. Beberapa pihak lainnya justru melihat tragedi yang terjadi di Tolikara bukan semata persoalan agama atau perbedaan keyakinan saja, namun lebih kepada kesenjangan sosial dan faktor ekonomi. Pandangan tersebut menilai bahwa aspek agama hanya dijadikan sebagai alat untuk membakar semangat massa untuk mengobarkan permusuhan dengan agama lain.

Selain anggapan dan pandangan seperti yang telah disampaikan di atas, muncul dugaan baru bahwa tragedi Tolikara memang sengaja ‘diciptakan’ oleh pihak-pihak tertentu sebagai pengalihan isu dugaan korupsi di wilayah tersebut yang melibatkan pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikara. Salah satu Komisioner Komnas HAM (Siane Indriani) menyatakan bahwa kasus kekerasan di Tolikara sengaja diatur untuk menutupi dugaan korupsi yang terjadi di wilayah tersebut. Dalam melakukan penyelidikan kasus kekerasan di Tolikara dari berbagai aduan dari masyarakat, Komnas HAM menemukan adanya penyalahgunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebesar Rp. 600 miliar.

Sementara itu, Dewan Pertimbangan Presiden bersama dengan Tim Pencari Fakta Tolikara juga menyampaikan pandangan yang serupa dengan temuan yang diperoleh Komnas HAM. Wantimpres dan TPF Tolikara menyimpulkan bahwa kekerasan yang terjadi di Tolikara diduga kuat terkait kasus korupsi yang sudah sekian lama tak kunjung selesai ditangani aparat penegak hukum. Korupsi ini diduga melibatkan Bupati Tolikara yang pernah diperiksa sebagai tersangka pada Direskrim Polda Papua terkait kasus korupsi semasa menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupeten Jayapura periode 1999-2004.

Fakta-fakta yang terungkap menggambarkan bahwa pejabat publik yang ada di Tolikara dengan sengaja ‘menyulut’ konflik horizontal antar masyarakat dalam bingkai perbedaan agama dan keyakinan sehingga dugaan korupsi pejabat publik tersebut dapat lepas dari jeratan hukum. Hal ini tentu saja menyedihkan mengingat bahwa toleransi beragama yang selama ini dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Indonesia ternodai oleh ulah pejabat publik di daerah untuk mengalihkan isu dugaan penyalahgunaan anggaran negara demi kepentingan pribadi.

Atas tragedi tersebut diharapkan toleransi antar umat beragama dan rasa saling menghargai perbedaan masyarakat Indonesia akan semakin dewasa dan tidak mudah untuk ‘ditunggangi’ oleh kepentingan politis pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, dugaan korupsi dan penyalahgunaan anggaran negara yang dilakukan oleh pejabat publik di Tolikara harus segera diproses secara hukum. Korupsi yang terjadi di Papua yang merupakan bentuk extra ordinary crime harus segera diberantas karena hanya akan membuat masyarakat Papua sengsara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s