Merefleksi Kembali Urgensi Kebebasan Pers di Papua

Andi_4Beberapa waktu lalu, Bagir Manan (Ketua Dewan Pers) menyatakan bahwa keterbukaan pers merupakan hal yang sangat baik bagi Papua. Dengan informasi yang lebih terbuka, diharapkan persoalan yang dihadapi di Papua dapat diselesaikan dan tidak lagi muncul kesan ditutup-tutupi. Kemerdekaan pers merupakan pilihan Indonesia sejak reformasi dan telah diakui melalui konstitusi sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Selain itu, upaya untuk menghalangi kebebasan pers di Papua justru akan menimbulkan dugaan bahwa memang terdapat persoalan di Papua yang cenderung disembunyikan.

Pernyataan Ketua Dewan Pers tersebut perlu mendapatkan apresiasi dan harus dikatakan sangat tepat apabila ditinjau dari sudut pandang regulasi dan konstitusi yang berlaku. Era kebebasan pers dan keterbukaan saat ini harus mampu memberikan kepastian secara hukum bagi para jurnalis (baik jurnalis dalam negeri maupun jurnalis asing) agar dapat mencari berbagai informasi (khususnya terkait Papua) untuk kemudian diolah dan dipublikasikan secara massal. Namun, kebebasan pers dalam konteks ini tentu saja harus bertanggung jawab dan terukur sehingga jargon kebebasan tersebut tidak menjadi bias.

Perlu dipahami bersama bahwa, kenyataan yang terjadi saat ini adalah masih adanya beberapa faktor yang harus menjadi pertimbangan bagi semua pihak terkait kesiapan Papua (dengan berbagai persoalan yang masih saja terjadi) dalam rangka menghadapi era keterbukaan informasi dan kebebasan pers. Pertimbangan pertama adalah profesionalitas jurnalis dalam mencari dan mengolah informasi yang harus mampu melepaskan diri dari muatan kepentingan apapun. Realita yang terjadi di Papua belakangan ini adalah justru banyak sekali kelompok-kelompok tertentu yang cenderung dengan intens menyuarakan agar jurnalis (dalam negeri maupun asing) diberikan akses yang seluas-luasnya untuk meliput informasi di Papua.

Suara-suara tersebut kemudian dijadikan sebagai bargaining position oleh kelompok tertentu di Papua untuk dapat memanfaatkan para jurnalis agar informasi yang telah diperoleh kemudian diolah sedemikian rupa agar menghasilkan tendensi yang negatif dan cenderung menyudutkan pemerintah. Pola-pola seperti itu justru selama ini tidak dilihat dan cenderung dikesampingkan oleh organisasi pers dan jurnalis di Indonesia, seperti Dewan Pers, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Organisasi-organisasi tersebut hanya akan fokus kepada aspek kebebasan pers dan keterbukaan informasi tanpa melihat berbagai efek domino yang akan ditimbulkan.

Pertimbangan yang kedua adalah setingan media massa dalam menyampaikan berbagai informasi yang telah diperoleh jurnalis. Setiap media memiliki orientasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan untuk menggapai orientasi tersebut, media massa memiliki setingan masing-masing. Orientasi paling umum yang dimiliki oleh industri media massa adalah orientasi terhadap profit atau keuntungan. Sebenarnya kondisi tersebut merupakan hal yang wajar mengingat bahwa sebagian besar industri media di Indonesia dikuasai oleh sektor swasta. Dalam rangka memperoleh profit sebesar-besarnya, media dituntut untuk kreatif dalam menyajikan program-program acara dengan menggunakan setingan-setingan tertentu sehingga dapat menarik perhatian audience. Semakin bagus dan kreatif program acara dimaksud serta dapat menyita atensi audience dengan jumlah yang sangat besar, maka akan semakin banyak profit yang akan diperoleh media melalui iklan.

Kondisi saat ini, dengan semakin tingginya tingkat pendidikan audience media, justru membuat mereka cenderung akan memilih mengkonsumsi media tertentu untuk memenuhi kebutuhannya akan informasi dan mengikuti isu-isu menarik yang menjadi setingan media. Celakanya adalah, isu yang paling menarik minat audience saat ini adalah isu-isu yang cenderung bersifat menyudutkan dan mendiskreditkan pemerintah. Hal itu justru mendorong pelaku industri media untuk secara terus-menerus mengangkat isu-isu yang pada akhirnya akan mendelegitimasi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan khalayaknya.

Begitu pula dengan isu-isu terkait Papua yang tergolong telah menjadi isu yang ‘seksi’ dan menarik untuk disajikan kepada audience. Kondisi tersebut juga akan memberikan celah kepada kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab di Papua untuk terus ‘memainkan’ isu-isu menarik yang menjadi persoalan mendasar di Papua. Hal ini pada akhirnya akan menjadi ajang transaksional yang berorientasi terhadap profit antara kelompok-kelompok di Papua, jurnalis, dan media. Kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab di Papua bertugas ‘memainkan’ isu pada tingkat grass root, jurnalis bertugas mengumpulkan informasi yang dibutuhkan atas isu tersebut, dan media massa kemudian bertugas mempublikasikannya. Praktek tersebut tidak hanya ‘dimainkan’ terbatas kepada media dalam negeri daja, namun terdapat indikasi bahwa media asing juga melakukan hal yang sama. Praktek-praktek seperti ini justru tidak pernah menjadi bahan masukan dan kritikan bagi organisasi pers dan jurnalis, bahkan muncul kesan bahwa organisasi-organisasi tersebut cenderung ‘menutup mata’.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, kebebasan pers dan keterbukaan informasi terkait Papua telah dijadikan sebagai ‘senjata’ oleh kelompok-kelompok di Papua untuk meraih kepentingan-kepentingan pragmatisnya dalam rangka menciptakan citra negatif pemerintah. Dengan demikian, kondisi tersebut akan membantu mereka dalam mencapai tujuannya untuk memisahkan diri dari NKRI. Kiranya penjelasan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan renungan dan masukan bagi Dewan Pers, AJI, PWI, dan pihak terkait lainnya untuk dapat dengan jelas melihat kembali urgensi kebebasan pers dan keterbukaan informasi dalam bingkai Papua dan dalam bingkai kedaulatan NKRI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s