Tukang Kayu-pun Jadi Sasaran OPM

137257_pasukan-opm-paniai_663_382

Sumber: http://media.viva.co.id/thumbs2/2011/12/22/137257_pasukan-opm-paniai_663_382.jpg

Sejumlah berita tentang penyanderaan Warga Negara Indonesia menjadi topik terhangat di akhir minggu-minggu kemarin. Media online dan cetak memberitakan terjadinya penyanderaan WNI tersebut dengan kronologinya.

Kronologi kejadian

Berikut adalah cuplikan berita yang terangkum.

Penyanderaan yang terjadi pada 9 September 2015 oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) didahului dengan aksi penembakan terhadap seseorang yang diekathui juga berprofesi sebagai tukang chainsaw dan merupakan teman dari dua orang yang disandera saat ini. Dua WNI yang disandera diketahui bernama Sudirman dan Badar. Keduanya berprofesi sebagai tukang potong kayu. Mereka  disandera kelompok bersenjata pimpinan Jefri Pagawak.

http://www.merdeka.com/peristiwa/pangdam-cendrawasih-sebut-opm-sandera-2-wni-berasal-dari-kelompok-jp.html

Pelaku penyandera WNI di Papua Nugini diduga berasal dari kelompok JP. Hingga saat ini aparat setempat masih terus melakukan upaya pembebasan terhadap keduanya.

Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Hinsa Siburian mengatakan korban ditawan di kampung Skoutiou, Provinsi Sandaun, Papua Nugini.

Ternyata aksi penembakan dan penyanderaan yang dilakukan oleh OPM bukan merupakan yang pertama kali. Tindakan kekerasan seperti ini sudah sering dilakukan, namun pada saat aparat keamanan melakukan penegakan hukum, yang ada justru aparat keamanan dituduh melakukan pelanggaran HAM kepada Orang Asli Papua (OAP). Kondisi ini kalau saya perhatikan, menjadi aneh. Bagaimana bisa realita dan fakta yang ada di lapangan diputar menjadi terbalik dan kelompok-kelompok separatis menunjukkan pada dunia internasional apa yang sebenarnya tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Berikut adalah salah satu sepak terjang OPM dalam tindakan kekerasan.

Sebelumnya, pada bulan Mei 2015, kelompok kriminal bersenjata di Paniai pimpinan Demianus Magai Yogi menyandera dua anggota TNI. Saat itu, Serda Leri (anggota Koramil Komopa) dan Prada Sholeh (anggota Yon 303/Raider Pos Komopa) berangkat dari pos Komopa menuju Enarotali menumpang speed boat melalui jalur laut.

Dua anggota TNI itu hendak membeli bahan sembako di Enarotali. Keduanya disandera oleh kelompok bersenjata. Namun, upaya penyanderaan itu gagal setelah dua anggota TNI itu loncat dari speed boat dan meloloskan diri.

http://news.okezone.com/read/2015/09/15/337/1214761/dua-peristiwa-penyanderaan-sepanjang-2015-di-tanah-papua

Pelaku Penyanderaan

Bagaimanapun pro kontra yang ada di masyarakat terkait pelaku penyanderaan, tulisan ini akan memberikan beberapa artikel-artikel berita yang selanjutnya dapat ditarik kesimpulan sendiri oleh pembaca. Tidak ada faktor subyektivitas dalam tulisan ini.

  1. Juru Bicara Organisasi Papua Merdeka Saul Bomay menyebut penyanderaan terhadap dua warga negara Indonesia di Papua Nugini dipimpin oleh Lucas Bomay dari Dewan Komando Revolusi Militer OPM Republik Papua Barat. Penyanderaan, kata Saul, bukan dikomandoi Kelompok Jeffrey seperti yang sebelumnya disebutkan oleh Tentara Nasional Indonesia.
    http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150914135035-20-78585/juru-bicara-opm-penyanderaan-wni-dipimpin-lucas-bomay/
  2. Pelaku penyanderaan menurut para sandera yang menyiksa para sandera seperti berikut.

“Kami disiksa disuruh merayap juga diminta untuk berteriak Papua Merdeka. Lalu kami pun selama penyekapan tidak boleh berbahasa daerah kami yaitu Buton. Kami hanya boleh berbahasa Indonesia,” kata Badar.

“Sementara kalau sesama mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Papua,”cerita Badar di ruang Cenderawasih 3 tempatnya dirawat bersama Sudirman, kepada Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw bersama Gubernur Papua, Lukas Enembe yang menjenguknya di RS Bhayangkara, Sabtu (19/9) siang.

Turut hadir Yakuba yang terkena luka tembak di bagian kepala sudah sadarkan diri. Bahkan kesehatannya pun kini berangsur membaik di dalam perawatan medis di Rumah Sakit Bhayangkara, Kotaraja. Yakuba dirawat di ruang Cenderawasih 2.

Badar masih dalam perawatan medis, disebabkan luka di bagian punggung kanan, akibat terkena pukulan senjata serta kakinya yang luka-luka saat hendak melarikan diri. “Saat saya melarikan diri tidak menggunakan alas kaki, hingga kaki saya luka,” ujarnya.

Diungkapkan Badar, selama penculikan berlangsung mereka dua kali membangun kemah bersama-sama dengan kelompok bersenjata itu, dengan beralaskan tanah dan beratapkan terpal. “Kami diberikan makan petatas yang direbus dan dibakar. Wajah mereka hitamkan dengan arang,” ujar Sudirman alias Dirman (28). Dia mengaku mereka diculik oleh 7 orang yang membawa 6 pucuk senjata dan dilengkapi panah serta senjata tajam

Usai ditangkap, kedua buruh penebang kayu itu dibawa ke PNG melalui jalur tikus yang berada di wilayah hutan PNG. Selama penyekapan, mereka pun selalu berpindah-pindah tempat.

http://www.beritasatu.com/nasional/308550-kesaksian-wni-yang-disandera-ditelanjangi-disiksa-disuruh-teriak-papua-merdeka.html

  1. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengungkapkan seorang penculik dan penyandera 2 warga negara Indonesia (WNI) di Papua Nugini (PNG) merupakan buronan polisi. Data Polri menunjukkan dia merupakan buronan kasus pembunuhan sejak 2006.

“Karena itu ada yang DPO Polri 2006. Kasus pembunuhan,”

http://news.liputan6.com/read/2323145/satu-penyandera-2-wni-di-papua-nugini-buronan-kasus-pembunuhan

Permintaan Barter

Kelompok OPM yang melakukan penyanderaan sempat meminta pertukaran sandera dengan tahanan yang diindikasikan merupakan kawanan mereka. Menkopolhukam Luhut Panjaitan memastikan tidak akan ada upaya barter atau pertukaran terkait penyanderaan yang dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua New Guiena.

“Tidak ada barter barter. Atase pertahanan kita di sana sedang lakukan komunikasi,” kata Luhut kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (14/9/2015) malam.

http://www.tribunnews.com/nasional/2015/09/15/luhut-tegaskan-tak-ada-barter-dengan-opm-terkait-penyanderaan-dua-wni

Luhut juga membantah soal adanya permintaan yang dilontarkan OPM agar berunding dengan pemerintah terkait guna pembebasan sandera, dua WNI itu.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Endang Sodik mengatakan Kelompok Jeffrey memberikan waktu 72 jam, agar rekan mereka yang ditahan di Polres Keerom, Papua akibat perkara ganja dan narkoba dapat dibebaskan.

Sudirman dan Badar yang merupakan penebang kayu ini disandera setelah Kelompok Jeffrey menyerang dan menembak warga, termasuk para penebang kayu.

Oleh karena lokasi penyanderaan tak lagi di Indonesia, melainkan lintas batas negara, maka Komando Daerah Militer TNI mengontak Konsulat Jenderal RI di Vanimo dan meminta bantuan Bupati Vanimo serta tentara PNG untuk membebaskan dua WNI yang disandera.

Menanggapi itu, Luhut mengatakan penyanderaan ini cenderung tindakan kriminal, bukan bermotif politik.http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150914211111-12-78720/pemerintah-tak-mau-tukar-tahanan-dengan-penyandera-warga/

“Kelompok Jeffrey itu masuk kategori Gerakan Separatis Papua Bersenjata. Kelompok itu masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) Polri karena kekerasan berdarah saat mereka menyerang Polsek Abepura,” kata Endang kepada CNN Indonesia. Kelompok Jeffrey, ujar Endang, ialah kawan dari tokoh separatis Papua Benny Wenda. Benny, menurut Komisi Penyelidikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Papua, terlibat dalam penyerangan Markas Polsek Abepura.

Pada 7 Desember 2000, massa yang berjumlah sekitar 15 orang memasuki Polsek Abepura dan menyerang petugas di dalamnya dengan senjata tajam berupa kapak dan parang. Dalam peristiwa itu, satu polisi tewas. Rabu pekan lalu, 9 September, Kelompok Jeffrey menembak warga yang sedang mengelola kayu. Kasus itu berkembang pada 11 September. Dua orang melaporkannya ke Polres Keerom. Dari empat korban, dua di antaranya tak ditemukan.

Kedua orang yang hilang itu adalah Sudirman (28) dan Badar (20). Mereka penebang kayu yang bekerja pada perusahaan penebangan kayu di Skofro, Distrik Keerom, Papua, yang berbatasan dengan Papua Nugini.
Kedua korban itu ternyata disandera Kelompok Jeffrey dan dibawa ke wilayah Papua Nugini. Penyandera meminta Sudirman dan Badar ditukar dengan rekan mereka yang kini ditahan di Polres Keerom. (Baca: OPM Minta Dua Sandera WNI Ditukar Rekan Berkasus Ganja)http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150914095559-20-78502/tni-kelompok-penyandera-wni-pernah-serang-polsek-abepura/

Kepala Kepolisian RI Jenderal (Pol) Badrodin Haiti sebelumnya menolak tawaran barter dua WNI dengan dua tahanan narkoba. Menurut Badrodin, pembebasan WNI yang disandera oleh kelompok bersenjata di Papua Niugini tersebut masih menunggu hasil negosiasi antara perwakilan Indonesia di negara tersebut dan Pemerintah Papua Niugini.http://nasional.kompas.com/read/2015/09/17/19290991/Komisi.I.Minta.Pemerintah.Tak.Negosiasi.dengan.Penyandera.WNI?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Realita

Ada dua versi terkait siapa yang melakukan penyanderaan terhadap warga Indonesia. Bagaimanapun itu, meskipun masih simpang siur terkait pimpinan yang melakukannya namun dapat dipastikan, entah itu Saul Bomay ataupun Jeffry Pagawak, tetap saja mereka adalah anggota OPM. Siapa lagi yang punya kepentingan untuk Papua Merdeka, kalau bukan kelompok OPM. Kedua terduga penyanderaan tersebut adalah kelompok OPM.

Kelompok OPM yang selama ini selalu meneriakkan Pemerintah Indonesia melakukan banyak pelanggaran HAM di Papua, menyuarakan ke forum-forum internasional bahwa Pemerintah Indonesia bersikap tidak adil bagi mereka, namun yang terjadi pada realitanya, justru kelompok mereka sendiri yang melakukan kejahatan. Kejahatan dan penyiksaan yang dilakukan OPM lah yang merupakan pelanggaran HAM. Tidak pandang bulu siapa yang dihadapinya, menyerang ke siapapun, bahkan seorang tukang kayu pun menjadi target mereka.

Kadang saya tidak habis pikir terkait tujuan mereka. Dasar-dasar mereka bertindak sewenang-wenang seperti itu.

Menanggapi hal itu, sebagai Bangsa Indonesia, saya mengharap hendaknya kita tidak melihat segala sesuatu hanya menyalahkan sisi Pemerintah mengingat Pemerintah mempunyai kewenangan yang besar. Pandangan itu lah yang membuat pemikiran kita gampang dimanfaatkan oleh kepentingan kelompok-kelompok separatis seperti OPM ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s