Barter Tahanan Ganja OPM dengan Sandera?

Penyanderaan

IMG SRC

Penyanderaan dua warga negara Indonesia (WNI) bernama Sudirman (28) dan Badar di Papua Nugini atau Papua New Guinea (PNG) diketahui berawal dari aksi yang dilancarkan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kedua WNI tersebut merupakan penebang kayu. Peristiwa tersebut turut menewaskan seorang tukang kayu itu. Kendati ada seseorang yang berhasil kabur dari kampung dan langsung melapor ke Polres setempat. Sementara dua rekannya dibawa kelompok separatis.

Kapuspen TNI Mayjen Endang Sodiq mengatakan, peristiwa bermula pada 9 September lalu. Saat itu, OPM melakukan penembakan di Kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Kerom. Selanjutnya, pada tanggal 11 September, kedua penebang kayu tersebut justru dibawa ke wilayah Skosio yang telah memasuki kawasan PNG. TNI dan Kodam Cendrawasih lalu berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal RI (KJRI) di PNG.

Juru Bicara Organisasi Papua Merdeka Saul Bomay menyebut penyanderaan terhadap dua warga negara Indonesia di Papua Nugini dipimpin oleh Lucas Bomay dari Dewan Komando Revolusi Militer OPM Republik Papua Barat. Penyanderaan, kata Saul, bukan dikomandoi Kelompok Jeffrey seperti yang sebelumnya disebutkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Menurut Saul, berbeda dengan Lucas yang memimpin operasi di lapangan, Jeffrey lebih banyak bekerja di belakang meja atau belakang layar. Menurut dia, penyanderaan dilakukan agar pemerintah mau menerima tawaran OPM untuk berunding dalam satu meja. Perundingan diminta dilakukan di luar negeri dengan dimediasi oleh negara ketiga yang independen.

Materi perundingan yang ingin dibicarakan OPM adalah soal solusi pemerintah untuk berbagai masalah yang ada di Papua. OPM menyandera dua WNI dan ingin dua orang itu ditukar dengan pembebasan rekan mereka yang ditahan di Polres Keerom karena terlibat kasus ganja.

Di samping itu, Menkopolhukam Luhut Panjaitan memastikan tidak akan ada upaya barter atau pertukaran terkait penyanderaan yang dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua New Guiena. Luhut juga membantah soal adanya permintaan yang dilontarkan OPM agar berunding dengan pemerintah terkait guna pembebasan sandera, dua WNI itu.

Karena lokasi penyanderaan tak lagi di Indonesia, melainkan lintas batas negara, maka Komando Daerah Militer TNI mengontak Konsulat Jenderal RI di Vanimo, dan meminta bantuan Bupati Vanimo serta tentara PNG untuk membebaskan dua WNI yang disandera tersebut.

Selanjutnya, Kodam juga menghubungi Atase Pertahanan RI di Port Moresby, ibu kota PNG, untuk menghubungi Panglima Tentara PNG terkait operasi pembebasan. TNI meminta pembebasan dilakukan dengan meminimalisasi kekerasan untuk menghindari perilaku brutal OPM.

SRC 1, SRC 2, SRC 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s