Penembakan di Keerom : Menunggu Suara Aktivis HAM Papua

Andi1Kelompok-kelompok bersenjata di Papua hingga hari ini terus saja melakukan berbagai aksi teror terhadap warga Papua. Keinginan untuk memenuhi isi perut melalui aksi-aksi anarkis telah menjadikan mereka individu-individu yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Mereka tidak segan untuk membunuh dan melakukan tindakan kejahatan lainnya tanpa memiliki rasa iba dan kasihan. Kepentingan-kepentingan sekelompok kecil manusia licik di Papua justru menggunakan pendekatan teror untuk memuluskan keinginannya setelah ‘isu’ pelanggaran HAM tidak mampu memisahkan Papua dari pangkuan Ibu Pertiwi NKRI.

Kali ini, warga Kabupaten Keerom yang harus menjadi korban keberingasan kelompok bersenjata yang tidak bertanggung jawab. Kemarin (9 September 2015) sekitar pukul 09.30 WIT, salah seorang warga Skopro Distrik Arso Timur Kabupaten Keerom (perbatasan RI- PNG) tertembak di bagian kepala (tembus mata kiri) dan luka panah pada bagian perut dan tangan kiri. Dari berbagai laporan yang diterima, korban saat sedang memotong kayu ditembak dan dipanah oleh kelompok bersenjata Papua tanpa diketahui motifnya.

Sebelumnya, pada tanggal 26 Mei 2015 (sekitar pukul 23.00 WIT) lalu juga terjadi penembakan di Mulia Kabupaten Puncak Jaya oleh kelompok bersenjata Papua tanpa motif yang jelas. Dalam kejadian penembakan tersebut, enam orang yang tertembak dan satu di antaranya tewas di tempat (Pengga Enumbi, umur 31 tahun) yang terkena luka tembak pada bagian kepala. Sedangkan lima korban lainnya (Suryanto Tandi Payung, Alfret Tandi Payung, Yulianus Tandidatu, Yogi Rerang, dan Marten Tandi Payung) mengalami luka tembak serius. Awalnya, keenam korban tersebut sedang bermain kartu di ruang tamu, lalu tiba-tiba terjadi rentetan tembakan ke dalam rumah dari jendela arah sebelah kiri atau bagian timur rumah korban.

Sebenarnya masih banyak lagi aksi-aksi anarkis dan brutal yang dilakukan oleh kelompok-kelompok bersenjata Papua, namun tidak banyak yang dipublikasikan oleh media massa. Hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Papua. Namun, kondisi tersebut akan berbanding terbalik apabila aparat TNI ataupun Polri yang melakukan penembakan walaupun telah melalui mekanisme yang tepat pada saat melepaskan tembakan tersebut. Media lokal di Papua, LSM, hingga aktivis HAM akan ‘berteriak’ bahwa tindakan preventif anggota TNI-Polri tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap HAM.

Tanpa bermaksud untuk membela ‘institusi militer’ dan ‘institusi sipil yang dipersenjatai’ yang memang memberikan kesan arogan dibalik seragam tersebut, namun realita yang terjadi adalah seperti yang telah digambarkan di atas. Para LSM dan aktivis yang (katanya) menjunjung tinggi HAM di Papua tersebut akan berbondong-bondong untuk melakukan konferensi pers dan melakukan aksi demonstrasi di jalan-jalan paska apabila terjadi tertembaknya warga sipil oleh anggota TNI-Polri (walaupun penembakan tersebut telah melalui mekanisme yang tepat). Seakan ingin menunjukkan eksistensinya, LSM dan aktivis tersebut dengan lantang berteriak agar Komnas-HAM untuk segera mengusut anggota TNI-Polri pelaku penembakan.

Tanpa bermaksud membela TNI-Polri (sekali lagi), namun apabila dicermati secara teliti, memang para anggota dua institusi tersebut seakan menjadi public enemy atau musuh bersama di Papua. Apabila sedang bertugas di pedalaman dan di perbatasan, mereka menjadi ‘sasaran empuk’ para kelompok bersenjata untuk ditembaki. Apabila sedang bertugas di kota, mereka menjadi sasaran bahan hujatan dan provokasi anggota LSM dan para aktivis yang memancing mereka untuk melakukan tindakan preventif. Apabila anggota TNI-Polri tersebut terlanjur melakukan tindakan preventif (walaupun telah melalui mekanisme yang tepat), isu HAM langsung mencuat. Sungguh miris dan sangat dilematis memang.

Sekarang saatnya bagi publik untuk menunggu aksi para anggota LSM (Kontras Papua, Elsham, dll) dan aktivis HAM terkait penembakan yang terjadi di Kabupaten Keerom. Sudah dapat dengan jelas dilihat bahwa pelaku penembakan tersebut adalah kelompok bersenjata Papua yang bertujuan untuk menciptakan teror di wilayah Papua. Apakah mereka juga akan dengan lantang menyuarakan pelanggaran HAM atas insiden penembakan warga sipil di Distrik Arso Timur Kabupaten Keerom oleh kelompok bersenjata Papua tersebut.?? Mari kita tunggu suara-suara ‘keras’ mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s