70 Tahun Indonesia Merdeka : Mengingat Frans Kaisiepo dari Papua

Andi_3Memperingati 70 tahun kemerdekaan menjadi salah satu media refleksi untuk mengenang berbagai pengorbanan para pejuang bangsa ini. Sekedar merefleksi kembali, banyak sekali nyawa dan harta para pejuang dikorbankan dalam merebut kemerdekaan bangsa ini hingga diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 lalu. Peringatan proklamasi kemerdekaan harus dijadikan salah satu momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan.

Para pejuang bangsa ini pada masa lalu telah melakukan berbagai upaya dalam rangka menjaga dan mempertahankan eksistensi NKRI. Mungkin tidak banyak masyarakat yang tidak mengetahui tentang salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Papua. Adalah Frans Kaisiepo yang lahir di Biak pada tanggal 10 Oktober 1921 merupakan pahlawan nasional. Namanya hingga saat ini diabadikan menjadi nama salah satu bandar udara di Papua dan juga diabadikan menjadi nama salah satu kapal milik TNI (KRI Frans Kaisiepo).

Frans Kaisiepo telah mulai ikut berjuang sejak masa-masa kemerdekaan RI yang dengan teguh menyatakan bahwa Papua merupakan bagian dari Nusantara Indonesia, sehingga menjadikan dirinya “dipinggirkan” oleh pemerintah Belanda pada saat itu. Sekitar tahun 1940, Frans Kaisiepo pernah menjadi salah satu Kepala Distrik di Papua, yaitu Distrik Warsa. Saat menjabat sebagai Kepala Distrik, ia sempat mengusulkan diri agar Irian (Papua) masuk ke dalam wilayah Karesidenan Sulawesi Utara dan menuntut penyatuan Irian ke dalam NKRI. Usulan tersebut ternyata malah membuatnya dipenjara dan diasingkan oleh Belanda.

Pada bulan Juli 1946, Frans Kaisiepo menjadi satu-satunya Orang Asli Papua yang menjadi delegasi dalam Konferensi Malino di Sulawesi Selatan. Sebagai pembicara, ia menyarankan bahwa nama Papua harus diubah menjadi Irian. Dalam Konferensi Malino tersebut,Frans Kaisiepo adalah salah satu anggota Delegasi yang menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) pada saat itu karena NIT akan terbentuk negara tanpa Irian Jaya.

Pada tahun 1961, Frans Kaisiepo mendirikan Partai Politik Irian yang bertujuan untuk menyatukan Irian dengan Republik Indonesia. Untuk mengatasi dekolonisasi Pemerintah Belanda yang terus menghambat penyatuan Irian dengan Indonesia, Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora (Tiga Komando Rakyat) pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta. Frans Kaisiepo menjadi salah satu sukarelawan yang menjadi pejuang kombatan dalam Trikora.

Pada tahun 1964, Frans Kaisiepo diangkat menjadi Gubernur Irian Jaya yang ke-4 dan pada tahun 1972 Frans Kaisiepo diangkat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia. Pada tanggal 10 April 1979, Frans Kaisiepo meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawaish. Atas jasanya, Frans Kaisiepo dianugerahi Trikora dan Act of Free Choice oleh pemerintah. Pada tahun 1993, Frans Kaisiepo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia dan dianugerahi Bintang Jasa Maha Putera Adi Pradana.

Frans Kaisiepo dapat menjadi salah satu contoh yang patut diteladani dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Setelah 70 tahun Indonesia merdeka, saatnya bagi generasi penerus khususnya masyarakat Papua untuk menghiasi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara. Menjaga dan memelihara bangsa ini merupakan suatu jalan panjang menuju bangsa yang besar dan tentu saja menjadi tanggung jawab seluruh generasi penerus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s