Agenda Tersembunyi JDP di Balik Gagagasan Dialog Jakarta-Papua

dialog-papua-damai-21Papua adalah wilayah paling Timur di Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah dan merupakan provinsi terkaya kedua di Indonesia. Namun kenyataannya selama kurang lebih 48 tahun, masyarakatnya bergumul dengan banyak problem kemanusiaan dan kebangsaan. Hingga saat ini setidaknya terdapat empat persoalan mendasar yang merupakan pemicu konflik di Papua, yakni perbedaan sejarah integrasi dan politik Papua, kekerasan politik dan HAM di Papua, pembangunan Papua yang belum terlaksana dan marjinalisasi masyarakat Papua, serta penolakan terhadap otsus.

Berkaca pada konflik yang terus terjadi di Papua sejak 1963, timbullah satu wacana yang mengedepan penyelesaian kompleksitas masalah Papua secara musyawarah atau dialog antara Jakarta-Papua. Jaringan Damai Papua (JDP) merupakan wadah yang digunakan untuk memfasilitasi dialog tersebut yang getol disuarakan oleh Peter Neles Tebay dan alm. Muridan dari LIPI.

Tanggal 5-7 Juli 2001, Jaringan Damai Papua, yang diinisiatifkan oleh Pater Neles bersama dengan 31 orang rekannya yang lain, mengadakan Konferensi Perdamaian Tanah Papua yang digelar di Auditorium Universitas Cendrawasih (UNCEN), Abepura.

Merujuk pada Term of Reference (TOR) Konferensi, tujuan digelarnya konferensi tersebut adalah melibatkan rakyat Papua untuk berpartisipasi secara aktif dalam memperjuangkan  terwujudnya perdamaian di Tanah Papua melalui dialog dan kerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik, serta meningkatkan kesadaran bahwa terwujudnya Papua Tanah Damai menuntut keterlibatan dari semua pemangku kepentingan di Tanah Papua, atau dalam rumusan singkatnya Papua yang damai harus dibangun dengan melibatkan Orang Asli Papua (OAP).

Konferensi tersebut diakhiri dengan penandatanganan sebuah deklarasi yang berisikan konsep perdamaian serta keharusan meneruskan dialog antara masyarakat Papua dengan Pemerintah RI. Keputusan Politik apapun yang dibuat oleh pemerintah Pusat tentang Papua dan kebijakan apapun yang diambilnya, sangat mempengaruhi upaya perdamaian di Tanah Papua. Sementara, kenyataannya sejumlah wakil dari institusi pemerintah pusat maupun lokal Papua yang diundang oleh penyelenggara konferensi ini sering tidak hadir dengan berbagai alasan. Dengan demikian, konferensi ini dianggap telah kehilangan tujuannya yang mulia lantaran telah ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu, maka hasilnyapun menjadi “kurang penting” karena hanya mengumpulkan aspirasi sekelompok aktivis yang mungkin saja bekerja atas nama pesan sponsor. Dialog dicurigai sebagai sebuah cara yang bermartabat untuk mencapai  kemerdekaan Papua. Karena dialog lebih banyak disuarakan oleh orang Papua asli dan berbagai NGO yang komit pada hak asasi manusia, dengan mengenyampingkan Peter Neles Tebay yang tampak tulus melakukannya. Dengan kata lain, ketika tuntutan dialog lebih kuat disuarakan oleh sekelompok golongan tertentu dan tidak mencerminkan suara kebatinan masyarakat umum melampaui agama, etnik dan ras wacana,  pada titik ini dialog bisa dicurigai sebagai kendaraan politik untuk memperjuangkan Papua merdeka.

Terlepas dari berbagai kepentingan yang menaungi kompleksitas rencana Dialog Jakarta-Papua, terdapat beberapa prinsip dialog yang mesti diyakini sebagai sebuah aturan bersama jika dialog tersebut ingin diwujudkan, yaitu ekualitas pihak yang berdialog, hubungan yang mutualistik, tidak adanya judgment dan truth claim, dan siap untuk menghadirkan keputusan bersama yang dapat diterima kedua belah pihak. Prinsip terakhir ini akan menjadi pembeda apakah sebuah dialog bisa produktif atau kontraproduktif, karena dua posisi yang saling berdiri di kutub diametral tampaknya sulit didamaikan jika keduanya kukuh dengan ideologi “merdeka” dan “NKRI”,  kecuali ada win-win solution yang bisa disepakati bersama. Perlu disadari, di dalam sebuah dialog tidak ada pihak yang kalah dan menang.

Secara keseluruhan, pentingnya dialog bisa diterima secara luas oleh masyarakat, bukan semata-mata untuk tujuan memisahkan diri namun untuk menyatukan dan memperkuat, memberi dan menerima, pada titik itu dialog Jakarta-Papua untuk penyelesaian yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s