Selamatkan Lahan Pertanian Kabupaten Buru dari Aktivitas Tambang

sawahGunung Botak yang terletak di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku sepertinya menjadi magnet yang menggiurkan bagi beberapa orang belakangan ini. Bagaimana tidak, semenjak penemuan sumber emas di Gunung yang sangat disaklarkan oleh masyarakat setempat. Di Pulau Buru, semua seolah sedang terkena demam emas. Walaupun, sekarang demamnya sudah mulai agak mereda, tidak sepanas dan seheboh tahun lalu hingga pertengahan tahun ini. Semua hotel dan penginapan mendadak penuh terisi para pendatang. Pulau Buru yang biasanya sepi mendadak hiruk pikuk. Kehidupan masyarakat mendadak berubah. Penduduk setempat mulai mengeluhkan kenaikan harga-harga bahan pokok yang ikut melonjak, menyertai para pendatang. Padahal, banyak di antara penduduk setempat yang tidak terkait langsung dengan aktivitas penambangan yang marak di sana.

Kegiatan penambangan emas di Pulau Buru masih didominasi oleh kegiatan penambangan emas tradisional. Kegiatan penambangan emas di Pulau Buru sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Namun, baru naik pamor sekitar November 2011. Para penambang tidak hanya berasal dari Pulau Buru, tapi juga berasal dari pulau lainnya, antara lain dari Sulawesi, terutama Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara, maupun dari Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Para penambang berdatangan mencoba menggapai Kota Namlea sebagai ibukota Kabupaten Buru.

Penambangan emas telah menyita perhatian para pendatang maupun penduduk setempat. Penduduk yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari pertanian pun ikut tergoda dan beralih profesi. Sawah-sawah dibiarkan terlantar dan mengering. Sungguh saying, magnet emas begitu kuat. Mengalahkan magnet pertanian yang menjadi komoditi utama Pulau Buru. Akibat dari banyaknya lahan yang diterlantarkan akibat pertambangan ini, target produksi beras Maluku tidak memenuhi target karena Pulau Buru yang selama ini menjadi Lumbung Beras Maluku mengalami penurunan produktivitasnya akibat eksodus para petani ini. Bahkan masyarakat Pulau Buru saat ini terpaksa membeli beras ke Ambon untuk memenuhi kebutuhan berasnya.

Disamping eksodus petani menjadi penambang emas, menurunnya produktivitas pertanian juga disebabkan oleh tercemarnya lahan persawahan oleh bahan merkuri dari hasil kegiatan penambangan yang digunakan untuk memurnikan emas. Bahan merkuri ini mencemari sungai yang selama ini digunakan sebagai sumber air untuk lahan pertanian, akibatnya banyak lahan pertanian gagal panen,

Perlu tindakan tegas dari pemerintah setempat dalam hal ini Pemkab Buru dan Pemerintah Provinsi Maluku dalam menyelesaikan permasalahan pertambangan ini, jangan dibiarkan berlarut – larut. Hal ini demi menyelamatkan status Kabupaten Buru yang selama ini dikenal sebagai lumbung padi Maluku dari tangan kotor pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab yang hanya ingin mengeruk keuntungan tanpa melihat efek jangka panjang dari pertambangan ini yang dapat merusak alam. Masyarakat harus diberikan kesadaran betapa tambang emas sudah sangat merusak ekosistem dan lahan pertanian yang selama ini menjadi andalan masyarakat disana. Masyarakat harus disadarkan bahwa keuntungan sesaat harus dikesampingkan demi menghindari kehancuran di depan nantinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s