Pencerahan : Walaupun Papua Tidak Melimpah SDA, Papua Tetap Bagian Indonesia

Mace Pace, apapuan yang terjadi Papua tetap indonesiaSahabat pembaca di seluruh tanah air, kali ini saya akan ceritakan bagaimana hasil percakapan dengan teman karib saya Timotius. Timotius adalah seorang mahasiswa asli Papua yang tinggal di salah satu asrama mahasiswa Universitas terkemuka di Jayapura.

Sembari menghabiskan malam pergantian tahun baru disebuah pelataran rumah yang tepat menghadap Pelabuhan Jayapura, Timotius mengutarakan pernyataan bahwa keikut sertaanya pada salah satu organisasi kepemudaan pro-referendum karena kepeduliannya terhadap orang asli Papua yang mulai termajinalisasi oleh para pendatang dan dalam rangka mencari jati diri sebagai mahasiswa yang idealis.

Obrolan yang telah mencair mendadak hening, lantas saya menjawab, kenapa harus merdeka? Apa karena SDA yang luar biasa? Timo menjelaskan bahwa “iya, itu salah satunya, adanya ketimpangan antara kesejahteran pendatang dengan orang asli Papua juga menjadi alasannya” Lantas saya Tanya balik, kenapa pendatang bias lebih maju? Saya salah satu pendatang tapi saya setiap hari bersama Timo, baik tidur, makan, dan aktivitas lainnya. saya pikir itu tidak objektif kalo menilai pendatang itu lebih sejahtera dibanding dengan orang asli Papua. Mendadak Timo berpikir, “terus apa yang salah?” tannya Timo.

Menjawab pertanyaan tersebut lantas saya mengutip teori perubahan sosial, yakni pada dasarnya perubahan sosial di masyarakat terjadi karena adanya pembangunan. Teori tersebut namapaknya berlaku juga secara individu yaitu perubahan yang terjadi terhadap sesoreng dipengaruhi oleh sejauh mana pembangunan dan perkembangan lingkungan. Dikaitkan dengan pertannyan Timo, sehingga dapat disimpulkan bahwa persoalan tersebut tergantung individunya apakah ingin sejahtera atau tidak? Jika memang menginginkan kesejahteraan maka harus memiliki niat yang kuat mengubah maind seet untuk berusaha menjadi sejahtera dengan jalan bisnis, wirausaha, menabung dan lain-lain. Namun kesemuanya itu tidak instan, perlu keuletan dan kreativitas. Sehingga tidak ada hubungnya dengan merdeka atau tidak merdeka.

Timo kemudian memberikan pembenaran bahwa “Memang betul, secara objektif bahwa orang asli Papua sampai saat ini sangat susah untuk mengelola bisnis, wirausaha apa lagi menabung uang. Kelemahan kami juga memang kami lebih senang denga hal-hal yang berbau instan kah, dan cepat. Itu juga sebenarnya yang saya pikirkan dan rasakan kebanyakan dari kami kurang bisa bersaing dengan pendatang karena memang pada dasarnya kami tak memiliki hal tersebut, untuk itulah lantas saya juga berpikir untuk belajar dan kuliah supaya dapat bersaing” Ujar Timo.

Terus bagaimana dengan SDA lain yang melimpah di papua, seperti Freeport kah? Timo menanyakan keraguan yang selama ini dijadikan salah satu isu strategis organisasi yang dia masuki tersebut. Menjawab pertanyaan tersebut saya teringat saat diskusi terkait “Efektivitas Otsus” dalam suatu seminar. Pada dasarnya besaran alokasi dana perimbangan dari hasil bagi potensi SDA Papua sudah sangat besar ditambah dengan dana Otsus Papua yang telah Pemerintah alokasikan untuk Pemda Papua sekitar 37,5 Triliun, terhitung sejak tahun 2001, tersebut seharusnya sudah dapat membangun Papua. Tapi faktanya dana yang sudah dialirkan kedaerah tersebut justru tidak memberikan perubahan, malah menguntungkan pejabat orang asli papua yang jumlahnya sedikit. Berdasarkan data yang dirilis Rizal salah satu anggota BPK RI (Badan Pemeriksa Keuangan), mencatat adanya indikasi penyimpangan dana otonomi khusus Papua sebesar Rp 4,281 Triliun. Dari jumlah itu, Rp 319,7 Milyar dipastikan mengakibatkan kerugian Negara, ujar Rizal. Temuan tersebut berasal dari Dana Otsus tahun 2002-2010 sebesar Rp 28,8 T. Sedangkan untuk periode 2010-2014 masih dalam proses penyelidikan terkait adanya indikasi kerugian Negara. BPK RI juga menerangkan bahwa angka kerugian negara ini diindikasikan mungkin bertambah. Alasannya, terdapat pertanggungjawaban pengeluaran sebesar Rp 566,3 Milyar yang tidak didukung dengan bukti lengkap dan valid. Jadi permasalah utamanya bukan SDA melimpah dan tidak adilnya Pemerintah Pusat, tetapi adanya oknum yang memanfaatkan dan alokasi pembangunan Papua untuk kepentingan pribadi. Sekali lagi dapat disimpulkan secara objektif bahwa keberadaan Papua sebagai bagaian dari wilayah NKRI tidak dikarenakan karena melimpah atau tidaknya SDA yang dimiliki.

Lalu jika ada pertanyan balik bahwa jika Papua tidak memiliki SDA sama sekali apakah Papua masih ingin merdeka? Jawabnya jelas, pasti tidak akan ingin merdeka. Pertanyaan ini seharusnya yang juga ditanyakan kepada setiap pemuda yang sedang dalam proses pencarian jati diri. Bahwa para pendiri bangsa telah mempersatukan kita dalam bingkai NKRI, dari Sabang sampai Merauke, tanpa membeda-bedakan adat-istiadat, agama, golongan, bahasa, ras dan suku untuk tetap bersatu menjadi bangsa Indonesia.

Timo terdiam, lalu saya balas menerangkan bahwa “Timo, kamu su sy anggap sebagai adik saya sendiri, apapun yang terjadi. Andai Papua itu sekalipun tak memiliki SDA, Papua tetap menjadi bagian Indonesia. Kita tetap saudara tra da yang bisa memisahkan kita” tandas saya dalam keriuhan malam itu, sekaligus menutup pembicaran serius malam itu.

Pembicaraan itu begitu berkesan dan tak akan bisa saya lupakan begitu saja, mungkin pertanyan yang sama akan diutarakan sahabat di Papua. Terpenting sekarang adalah bagaimana kita sama-sama memberikan manfaat bagi mace, pace, tanah kelahiran dan bangsa ini. Semoga tulisan ini menginspirasi akan keberagaman permasalahan bangsa Indonesia yang menjadi tantangan juga pemicu semangat untuk terus bersatu dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s