Saatnya Pendidikan Papua Bangkit Bersaing dengan Daerah Lain

hAdanya anggapan bahwa Otsus telah gagal yang disampaikan oleh sebagian kecil masyarkat Papua, tetapi justru yang terlihat adalah sebaliknya bahwa sebagian besar masyarakat Papua menganggap Otsus merupakan harapan generasi Papua untuk mempercepat pembangunan dan mensejajarkan Papua dengan daerah lain di Indonesia.

Yohanes Kuayo adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa (STPMD “APMD”) Yogyakarta asal Papua, terus berusaha membangun Papua melalui sebuah kritikan yang positif, bukan sekedar membuang-buang waktu mempermasalahkan status politik Papua dan selalu menyalahkan Pemerintah dalam penanganan Papua. Berikut sebuak kritik untuk peningkatan pendidikan Papua dan implementasi Otsus di bidang pendidikan yang disampaikan oleh salah satu generasi Papua. “Sekarang, inilah saatnya kita melihat, mengevaluasi, mengkritisi, saling memberi masukan dan saran, dan mengelola semua itu dengan mata hati demi peningkatan kualitas pendidikan di Papua. Melihat pendidikan kita saat ini, semua memprihatinkan. Namun kita tahu, saat ini, Papua sedang menggeliat, mulai membenah diri dalam hal pendidikan untuk maju bersaing dengan daerah-daerah lain’.

Sayangnya, kita masih berkutat dengan masalah-masalah lama: kurangnya tenaga pengajar, kurangnya insfrastruktur dan sarana prasarana, juga mengenai kualitas guru pendidik dan sarana pendukung proses belajar mengajarnya.

Yang mesti dibanggakan, dari segala keterbatasan yang ada saat ini, orang Papua mulai bangkit bersaing dengan daerah lain. Dalam olimpiade-olimpiade, anak-anak Papua sudah mulai diperhitungkan. Namun, kita masih belum “berdiri” secara keseluruhan. Masih banyak ketimpangan. Kita harus benahi semua itu dulu.

Yang pertama saya mau soroti adalah peran pemerintah daerah dalam membangun pendidikan sebagai sarana pembangunan peradaban sebuah bangsa yang besar.

Di seantero tanah Papua, masalah umum yang dihadapi adalah masalah kurangnya sarana-prasarana memadai dan alat bantu mengajar yang lengkap untuk membuat anak didik belajar dengan baik.

Keluhan dan fenomena fakta di lapangan menunjukkan bahwa hampir sebagian besar sekolah terkesan seperti “itu-itu saja,” tidak ada perubahan. Padahal, sudah 13 tahun kita hidup dalam kucuran dana Otsus yang bermiliaran rupiah.

Setahu saya, 20% dari dana Otsus itu dialokasikan untuk pendidikan dan kesehatan. Baru, bagaimana bisa sarana prasarana, insfrastruktur pendidikan, alat bantu mengajar, dan macam-macamnya masih seperti yang lama? Dikemanakan uang Otsus sebesar itu?

Kedua, masih banyak anak-anak Papua yang belum bisa membaca di tingkat SD. Ini ironis. Sebagai contoh, di daerah pedalaman di Papua atau daerah lainnya yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak, ada satu dua diantara mereka, tamatan SD, yang bahkan tidak bisa baca tulis hitung.

Bagaimana bisa ia dapat lulus sampai tamat SD bila ia tidak tahu baca tulis hitung? Seperti itu ajaib. Keajaiban yang memalukan kita sendiri.

Pantauan dari saya, selama ini, banyak guru- guru yang ada di seluruh kampung di daerah pegunungan Papua, pesisir sebagian, yang daerahnya terpencil, masih juga banyak yang meninggalkan tugas atau kewajibannya sebagai mengajar, menelantarkan anak didik.

Hal ini membuat banyak anak sekolah yang tidak belajar dengan penuh dan lengkap. Proses belajar mengajar hanya setengah, terputus-putus, karena banyak guru-guru melakukan libur panjang sendiri.

Menurut saya, ada 3 hal berkaitan dengan poin kedua ini yang harus dibenahi. Pertama, Papua kekurangan guru. Papua butuh banyak pasokan guru.

Kedua, mental seseorang sebagai seorang guru belum terbentuk. Ia masih bermental biasa. Seorang guru yang telah menjiwai panggilannya sebagai guru, ia akan tetap mengajar, walau banyak rintangan menghadang.

Saya ingin beri contoh. Para guru tua didikan Belanda yang tamat di SPG tempo dulu, sampai sekarang mereka tunduk dan patuh pada tugas mereka, mengajar. Mereka sangat hebat. Semangat dan dedikasi kerja sebagai guru tinggi. Tamatan PGSD saat ini mental gurunya lebih rendah dari SPG. Buktinya, guru-guru muda saat ini di Papua lebih banyak buat libur panjang sendiri ketimbang mengajar di sekolah.

Dan yang ketiga, pendidikan Papua butuh perhatian serius dari pemerintah daerah Papua dan kabupaten. Ini dalam bentuk rangsangan kepada sekolah-sekolah agar menjadi lebih baik.

Juga, bagaimana Pemda turut ambil bagian menumbuhkan semangat kompetitif antar siswa dan sekolah dalam hal kualitas, mungkin dengan mengadakan lomba-lomba di tingkat kabupaten atau provinsi. Hal ini untuk saat ini masih kurang.

Sebagai penutup dari tulisan ini, ada beberapa hal yang mesti jadi perhatian kita bersama, terkait pendidikan kita di tanah Papua.

Pertama, realisasikan uang Otsus yang dialokasikan untuk pendidikan, betul-betul untuk membangun pendidikan Papua agar lebih berkualitas.

Kedua, mulai mengontrol dan mengawasi para guru yang sering in-disiplin dalam menjalankan tugas mereka, mendidik anak bangsa Papua untuk menjadi lilin-lilin kecil yang siap menerangi gelapnya hidup tanah Papua.

Terkait poin kedua ini, yang mesti dilakukan adalah dua. Satu, mulai kontrol betul guru, dan pastikan guru mengajar. Bila tidak, potong gaji. Kedua, pada sekolah-sekolah yang menuju ke pendidikan guru, seperti PGSD, jangan lupa sisihkan perhatian khusus untuk membina mental.

Mental sebagai seorang guru yang pantang mundur, kuat dan tegar, dan siap menjadi terang dimana saja, dalam hal apa saja, dan menjadi payung buat berlindungnya anak didik sangat perlu. Guru muda saat ini mentalnya kita ragukan. Banyak bukti terjadi di tanah Papua.

Ketiga, pemerintah daerah perlu mengkaji, bagaimana bila pendidikan di Papua berpola asrama. Di sekolah, ia dapat bejalar. Di asrama, selain belajar, ia dapat bekal lain; spiritual, mental dan moral.

Keempat, perlu ada rangsagan yang diberikan oleh pemeritah kepada sekolah, kepada anak didik. Mungkin dengan membuka ruang lomba, agar mental kompetitifnya muncul.

Keempat, pendidikan harus menjadi sarana untuk mengangkat kebudayaan. Dengan pelajaran Mulok, seperti kata frater Marko Okto Pekey, Pr misalnya, seperti dilangsir http://www.majalahselangkah.com, beberapa waktu lalu.

Juga perlu ada kajian mendalam, bagaimana bila kita membuat kurikulum pendidikan Papua yang khusus berkonteks Papua. Kita diimplementasikan kurikulum berkonteks Papua itu di Papua. Ini penting, sangat cocok dan sesuai dengan Otsus yang sementara ini Papua terima.

Kelima, Menggali pendapat ketua Lembaga pendidikan Papua, Longginus Pekey, S. Pd, yang dilangsir majalah Selangkah, terkait bagimana bila mata pelajaran di Papua dikurangi karena membebani siswa, dan diarahkan menuju kejuruan sejak SMP kelas VII. Sejak kelas VII SMP, siswa telah dibagi menurut jurusan. Ini supaya ia semakin mantap dengan jurusannya.

Semua kembali kepada komitmen Pemerintah bersama masyarakat dan generasi muda Papua. Tindakan pertama tentu diharapkan datang dari pemerintah melalui Dinas Pendidikan, menyikapi semua persoalan ini disertai dengan semangat membangun dari seluruh lapisan masyarakat Papua. Semoga pendidikan kita di Papua lebih maju dan semoga Papua tetap damai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s