PT. Freeport Indonesia Bangun Smelter, Perekonomian Papua Meningkat

smelter

Setelah dikeluarkannya Undang-Undang (UU) Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba), maka saat ini seluruh perusahaan pertambangan mineral diwajibkan untuk memurnikan hasil tambangnya didalam negeri yang pada pelaksanannya paling lambat tahun 2014.

UU Noor 4/2009 mengenai Pertambangan Mineral dan Batubara tersebut kini telah mendorong meningkatnya investasi smelter, karena fasilitas smelter yang ada masih terbatas sehingga untuk memenuhi ketentuan dari UU Pertambangan yang baru tersebut maka harus dibangun smelter baru.

Dalam industri pertambangan mineral logam, smelter merupakan bagian dari proses sebuah produksi, mineral yang ditambang dari alam biasanya masih tercampur dengan kotoran yaitu material bawaan yang tidak diinginkan. Sementara ini, material bawaan tersebut harus dibersihkan, selain itu juga harus dimurnikan pada smelter.

Smelter itu sendiri adalah sebuah fasilitas pengolahan hasil tambang yang berfungsi meningkatkan kandungan logam seperti timah, nikel, tembaga, emas, dan perak hingga mencapai tingkat yang memenuhi standar sebagai bahan baku produk akhir. Proses tersebut telah meliputi pembersihan mineral logam dari pengotor dan pemurnian.

Salah satu perusahaan tambang terkemuka di dunia, PT Freeport Indonesia melakukan eksplorasi, menambang, dan memproses bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia berencana membangun fasilitas pemurnian mineral (smelter) walaupun sampai saat ini belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Permasalah utamanya adalah proses perpanjangan kontrak PT Freeport belum menemui titik terang. Saat ini Pembahasan amandemen kontrak PT Freeport Indonesia dengan pemerintah masih berjalan. Terdapat beberapa poin yang belum menemui kata sepakat antara kedua belah pihak.

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, ada 6 poin pokok renegosiasi amandemen kontrak karya Freeport mulai dari penerimaan negara, pembangunan smelter, peningkatan kandungan lokal, luas wilayah, divestasi saham, dan kepastian perpanjangan kontrak.

Freeport sudah menyatakan setuju untuk membangun smelter, terutama di Papua. Namun terkendala minimnya pasokan listrik di Bumi Cendrawasih. Selain itu, Freeport sudah menyetujui kenaikan royalti untuk emas 3,75% dari yang sebelumnya hanya 1%. Perak naik royaltinya jadi 3,25% dan tembaga naik jadi 4%. Freeport juga sudah menyatakan kesediaanya membangun smelter dan sebagian wilayahnya dipangkas.

Jika pembangunan smelter dilakukan oleh setiap perusahaan harapannya dapat memberikan yang terbaik bagi pertumbuhan perekonomian nasional. Apalagi telah jelas bahwa adanya smelter dapat memberikan peluang tenaga kerja baru, serta pengolahan bahan mentah kebahan jadi tidak diekspor dan akan dilakukan di dalam negeri sendiri yang pada akhirnya investor akan datang untuk membuka tempat pengolahan tersebut, dan tidak lupa harapannya akan meningkatkan iklim ekonomi nasional tetap terus tumbuh dan meningkat yang akan melahirkan kesejahteraan masyarakat Indonesia terkhusus di Papua yang menjadi wilayah operasi PT. Freeport Indonesia.(PRO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s