Stop Ancaman Kelompok Separatis Bersenjata di Papua

papua kartun

Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini tidak hentinya memperjuangkan kebebasan dari Indonesia. Memang sudah banyak masyarakatnya yang memiliki jiwa merah putih dan berjuang untuk kemajuan Indonesia, namun tidak kalah banyak masyarakatnya yang membentuk kelompok untuk membebaskan diri mereka dari Indonesia seperti, Tentara Pembebasan Nasional (TPN) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Cara yang dilakukan juga sangat banyak, seperti mencari dukungan negara asing, diplomasi dengan pemerintah pusat, serta melakukan aksi kekerasan dengan senjata api.

Aksi Kekerasan Kelompok ini masih terus berlanjut selama mereka merasa belum bebas dari Indonesia. Mereka melakukan penembakan kepada aparat keamanan setempat dan merampas senjata serta amunisi untuk menambah persediaan mereka. Telah banyak aksi yang mereka lakukan yang mengakibatkan korban di TNI.

“Pratu Abraham , anggota Yon 751 tewas ditembak kelompok sipil bersenjata di dekitar pasar llaga, ibukota Kabupaten Puncak. Korban ditembak KSB saat berpatroli di sekitar pasar llaga guna mengamankan pelaksanaan pelantikan kepala distrik di llaga, pedalaman Papua” jelas Kapendam XVII Cendrawasih Letkol Inf Rikas.

Selain itu, rentetan aksi kelompok ini sudah banyak dan juga membahayakan masyarakat, seperti penembakan mobil pembawa bahan sembako untuk masyarakat yang mengarah ke Kampung Kalome dan Kampung Dangobak, aksi tersebut menewaskan 1 orang sopir dan 2 orang luka tembak serta 4 mobil dibakar. Kemudian aksi penembakan yang memakan korban masyarakat sipil yang berprofesi sebagai tukang ojek yang bernama Nasito asal Probolinggo.

Selain melaukan aksi kekerasan,kelompok ini juga bermaksud memancing aparat untuk melakukan serangan balik, sehingga nantinya serangan polisi menjadi boomerang dengan menggunakan isu pelanggaran HAM terhadap orang Papua. Aksi kekerasan ini merupakan salah satu dari cara mereka untuk membuktikan keseriusan mereka untuk melepaskan diri dari Indonesia.

Namun hal ini dapat dihindarkan, salah satu putra Papua, Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai mengatakan bahwa sesungguhnya ketidaksiagaan aparat merupakan penyebab insiden penembakan di Papua. “ dalam perspektif hak asasi manusua konflik antara pihak yang memiliki senjata tidak bisa dikategorikan dengan pelanggaran HAM, karena kedua pihak adalah kelompok bersenjata yakni baik dari negara dan milisi, jadi tidak ada pelanggaran HAM di situ” jelas Natalius.

Oleh karena itu, Aksi kelompok separatis ini harus segera dihentikan, karena aksi mereka sangat meresahkan masyarakat yang tinggal di Papua memutus dan menghambat pengembangan SDM serta infrastruktur, selain itu, mereka bisa melakukan perekrutan terhadap masyarakat asli Papua dengan menawarkan kebebasan untuk Papua. Masyarakat Papua yang sudah berjiwa nasionalis harus dipertahankan dan diperbantukan dalam menemukan persembunyian kelompok ini.(GR)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s