Perhatian Pemerintah Untuk Pendidikan Papua

pendidikan Papua

Presiden Joko Widodo telah resmi meluncurkan program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Kartu tersebut merupakan salah satu program unggulan dari Pemerintahan Joko widodo. Bahkan kartu tersebut dapat dikatakan kartu ‘sakti’ Joko Widodo dalam mengatasi masalah Kesehatan dan Pendidikan. Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa kesehatan dan pendidikan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia. Karena itu Presiden Joko Widodo bertekad memperbaiki layanan kesehatan, pendidikan, dan perbaikan infrastruktur di provinsi paling timur Indonesia.

“Kesehatan dan pendidikan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia. Namun, hal itu tidak dapat diselenggarakan pemerintah sebelumnya” ungkap Joko Widodo.

Melihat dari data Tingkat melek huruf dan Angka Partisipasi Kasar (APK) di berbagai jenjang pendidikan di Papua masih relatif rendah. Hal tersebut terlihat  dari tingkat melek huruf untuk usia 15-59 tahun di Papua masih di atas 35 persen, bahkan di sejumlah kabupaten di Papua jumlah populasi tuna aksara mencapai lebih 50 %. Ini jauh di atas tuna aksara nasional yang hanya sekitar 4,5 persen. Sedangkan APK untuk pendidikan dasar, SD/MI Angka Partisipasi Kasar (APK)-nya sudah cukup tinggi, yakni 93,6%. Namun demikian angka ini jauh di bawah APK nasional yang mencapai 113%. Demikian juga APK SMP/MTS dan SMA/MA/SMK yang masing-masing adalah 54,65% dan 42,64%, yang juga di bawah APK nasional yang sudah mencapai 85% dan 65%. Rendahnya APK ini juga terjadi pada jenjang pendidikan tinggi di Papua.

Permasalahan pendidikan Papua ini sudah menjadi perhatian dari para pengamat pendidikan di Indonesia. Salah satunya pengajar Antropologi di Universitas Cendrawsih, Dr Enos H Rumansara M.Si yang mengungkapkan bahwa pendidikan dan kesehatan di Papua perlu mendapat prioritas utama baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

“Masalah pendidikan dan kesehatan perlu memperoleh prioritas di daerah Papua saat ini. Dunia pendidikan di kawasan daerah paling timur Bumi Nusantara tersebut dinilai cukup sulit, salah satunya karena jauh lokasinya antara kampung dengan distrik atau kabupaten. Kalau sudah tamat SD,banyak warga yang mengalami kesulitan melanjutkan jenjang pendidikannya ke tingkat yang lebih atas. Dengan pendidikan yang mudah, diharapkan wawasan ilmu dan pengetahuan masyarakat Papua juga akan lebih luas dan berkembang” Ujar Dr Enos.

Permasalahan pendidikan di Papua tak lepas dari kurangnya pembangunan infrastruktur yang menjadi salah satu sumber ketertinggalan Papua dari daerah-daerah lain di Tanah Air. Salah satu infrastruktur tersebut adalah bangunan sekolah.

Timika, Papua, pernah terjadi para orang tua dan para guru SD Inauga jl. Busirih Distrik Mimika Baru melakukan aksi unjuk rasa yang menuntut agar siswa dapat segera menempati gedung sekolah yang baru. Bangunan sekolah yang digunakan siswa dan siswi merupakan bekas Balai Kampung Inauga  yang sudah tidak layak digunakan

Karena Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan yang dibangun oleh pemerintah yang memiliki tujuan sebagai jembatan bagi seorang anak untuk mendapatkan pendidikan yang nantinya akan berguna bagi perkembangannya hingga usia dewasa

Selain dari infrastruktur juga kurang tersedianya sumber daya manusia sebagai tenaga pengajar pendidikan. Permasalah pendidikan di Papua tersebut menjadi perhatian penting bagi Presiden Joko Widodo

Berdasarkan data tahun 2013 dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura, bahwa jumlah tenaga pengajar/ guru di Kabupaten Jayapura sebanyak 3.464 orang. Jika melihat dari cakupan luas wilayah Kabupaten Jayapura dan sekolah yang dimiliki, Kabupaten Jayapura masih membutuhkan tambahan tenaga pengajar sekitar 1/4 dari jumlah guru yang ada sekarang karena kondisi saat ini belum ideal antara jumlah pengajar dan jumlah sekolah yang ada.

Dengan adanya perbaikan dan pembangunan infrastruktur di Papua akan memampukan layanan yang baik di Papua.  Pembangunan Infrastruktur terutama dalam hal pendidikan seperti bangunan sekolah dan penambahan jumlah sekolah di berbagai tingkat dan SDM dalam pendidikan dan kesehatan  akan memberikan kesempatan besar bagi rakyat Papua dalam mengembangkan tingkat kualitas masyarakat Papua.

Infrastruktur yang minim di Papua mampu mencetak puluhan manusia Papua yang berkualitas, bagaimana jika terbangunnya infrastruktur yang lebih banyak lagi dalam bidang pendidikan dan kesehatan di Papua? tidak menutup kemungkinan akan mencetak ratusan bahkan ribuan manusia berkualitas dan terdidik dari Papua.

Manusia berkualitas dan terdidik inilah yang akan menjadi tulang punggung bagi kemajuan dan kebangkitan Indonesia di segala bidang. Layaknya Yohana sebagai menteri bisa menjadi inspirasi kaum perempuan khususnya anak-anak perempuan di Papua agar berani memperjuangkan nasibnya melalui pendidikan hingga jenjang pendidikan tinggi.(PRO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s