“Rindu Papua” Catatan Pongda Anak Papua

pelajar papua

Saya merindukan Papua menjadi lebih sejahtera. Saya merindukan Papua yang bangga akan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Saya merindukan Papua yang menjadi anak kandung Pemerintah Indonesia, tidak lagi menjadi cinderela bagi negeri ini, yang selalu dianak tirikan dalam berbagai kepentingan. Namun bagi saya, untuk mencapai itu semua, Papua tidak bisa jika hanya mengandalkan pemerintah. “Papua sangat bergantung pada anak muda Papua, yang berani bermimpi dan memiliki visi mulia untuk Bumi Cendrawasih”, salah satu sepenggal ungkapan Rizky Primachristi Ryantira Pongdatu, peranakan Papua-Toraja yang rindu akan kemajuan dan kesejahteraan Papua.
KATA ORANG TENTANG PAPUA
Kalau mau jujur, membahas Papua sebenarnya kurang menarik jika dikaitkan dengan mimpi anak-anak mudanya. Nyaris tidak pernah ada pemberitaan yang menyentuh ranah tersebut. Media mainstream di Indonesia maupun dunia cenderung membahas papua dari sisi luarnya saja. Isu yang banyak dimunculkan seperti keindahan alam papua, eksotisme pariwisatanya, kekayaan tambangnya, dan konflik horizontal antar suku yang terjadi. Secara umum, memang positif jika media-media membahas mengenai kekayaan alam papua dan keindahan alamnya. Namun, pola pikir seperti itu adalah pola pikir kolonialisme, pola pikir tamak, yang hanya memikirkan kekayaan, keindahan, tanpa peduli pada orang-orang disana. Namun, adakah media yang mengekspos mengenai mimpi-mimpi pemuda Papua? Adakah liputan khusus mengenai gundah gulana para kepala suku di Papua? Adakah kajian strategis mengenai visi pembangunan di tanah Papua? Sangat sedikit! Tidak berimbang dengan pemberitaan negatif dan kulit luar Papua.
Anda tahu, efek media mainstream mengenai Papua sampai membuat penilaian orang-orang mengenai Papua menjadi selalu negatif. Ketika saya tanya kawan-kawan saya tentang Papua, jawaban mereka rata-rata bisa dikategorikan menjadi:, Masih terbelakang bro, pake koteka ; Suka minum-minum dan main perempuan ; Perang suku, bahaya, banyak polisi dan warga sipil mati.
Ada kawan saya yang tidak diijinkan orang tuanya KP di Papua karena alasan keamanan di Papua yang tidak kondusif. Apa yang terjadi di Papua digambarkan sebagai sesuatu yang berbahaya. Minum-minum dan main perempuan dianggap sebuah kebodohan. Kemiskinan di Papua dianggap karena malasnya dan etos kerja orang Papua yang rendah. Perang antar suku dipandang sebagai aksi yang sama sekali tidak berbudaya, tidak modern dan kampungan. Sayang sekali, pemuda Papua juga mengidap penyakit-penyakit tersebut. Benar memang bahwa semua tindakan buruk itu masih dominan di Papua dan berimplikasi negatif. Tapi bukan berarti kita hanya bisa mengutuk keadaan disana, bukan?
ANAK MUDA PAPUA
Perlu diketahui, ternyata tidak banyak anak muda Papua yang pergi merantau untuk mencari ilmu, lalu kembali lagi ke Papua untuk membangun kampungnya. Teman saya asal Papua, Rangel dan Melkion yang mengatakan hal tersebut kepada saya. Menurut mereka, kehidupan dan fasilitas yang lengkap di luar Papua membuat anak-anak muda perantau itu enggan balik. Bagi Rangel dan Melkion, jangan berharap banyak terhadap mereka-mereka para perantau. Mereka tidak memiliki visi membangun Papua dalam konteks keindonesiaan kecuali visi memerdekakan Papua dan lepas dari NKRI.
Fakta yang lain, tidak banyak juga anak muda Papua perantau, terutama di Jawa, yang mudah berkomunikasi dan bersosialisasi dengan suku-suku lain. Saya melihat fenomena ini dengan mata kepala saya sendiri. Saya mempunyai beberapa kenalan anak muda Papua di gereja, kampus (ITS) dan organisasi ekstra kampus (GMKI). Semua sama, rata-rata mereka tidak banyak omong dan tidak banyak berbicara dengan orang-orang diluar golongan mereka. Rupanya Rangel dan Melkion juga setuju. Menurut mereka, ada semacam jetlag budaya sehingga pemuda Papua susah menyatu dengan pemuda suku lain.
Nah uniknya, si Rangel dan Melkion ini beda. Rangel Beith dan Melkion Waronay, keduanya adalah mahasiswa dari Universitas Negeri Papua (Unipa), Manokwari. Kami bertemu di Forum Indonesia Muda 15, November lalu. Mereka mudah sekali menyatu dengan saya dan teman-teman dari suku lain. Sangat berbeda dengan pemuda Papua lainnya yang saya kenal. Mungkin karena mereka juga aktivis mahasiswa (Rangel adalah Gubernur Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Melkion adalah Kahima Jurusan Ekonomi Pembangunan) sehingga gaya komunikasinya berbeda dan lebih hidup.
Mereka berdua mengaku bahwa pertama kalinya mereka melihat dunia di luar Papua. Mereka baru tahu dengan yang namanya pengemis dan pengamen. Mereka bilang, tidak ada pengemis dan pengamen di Papua. Padahal keberadaan pengemis dan pengamen merupakan parameter yang jelas untuk mengukur tingkat kemiskinan. Aneh, padahal media mainstream selalu memberitakan kemiskinan di Papua. Fakta ini ditertawakan oleh Rangel. Menurutnya, orang-orang Papua itu sangat berkecukupan. Tukang becak pun bisa mendapat penghasilan jutaan.
Rangel memiliki ambisi yang sangat mulia. Ada alasan mengapa Rangel memilih kuliah di Unipa ketimbang merantau keluar Papua. Dia tidak ingin lupa daratan. Untuk berjaga-jaga saja dari godaan tidak pulang kampung. Rangel ingin menjadi Gubernur Papua dimasa depan dan membangun tanah Papua (kau bersaing denganku kawan. Hahaha). Rangel ingin mengubah perilaku minum-minum, sifat pemalas dan hobi berjudi di kalangan orang Papua. Saya salut dengan visi hidupnya. Dia bilang tidak banyak anak Papua yang seperti dia yang memiliki visi dan impian yang sama. Sepulangnya dari FIM, dia ingin membuat sebuah forum sejenis FIM untuk mengumpulkan pemuda-pemudi Papua yang masih ‘waras’ dan memiliki visi yang sama dengannya. Membangun Papua tidak bisa sendirian, butuh banyak tangan, terutama pemuda-pemuda asli Papua. You’re on the right track, bro
APA YANG HARUS DILAKUKAN
Bagi saya, seharusnya forum-forum kepemudaan, seminar-seminar kepemimpinan, diskusi dengan tokoh besar harus sering-sering dilaksanakan di Papua. Ini bisa menjadi katalis yang luar biasa dan bisa menjadi ajang pertemuan aktivis-aktivis Papua yang menurut Rangel, masih tersebar-sebar dan tidak bersatu. Ini adalah PR bagi Kemendiknas atau kementerian terkait dan UP4B (Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat) menggelar secara rutin program-program untuk memberdayakan Pemuda-pemuda asli Papua.
Diluar Papua, banyak sekali pemuda-pemudi non-Papua yang juga sangat peduli dan siap hidup di Papua untuk mengabdi dan membangun tanah Papua, termasuk saya sendiri. Jika pemuda-pemuda asli Papua dan non-Papua yang memiliki visi yang sama dan mampu bersatu, pembangungan di Papua pasti bisa menjadi lebih baik. Anak-anak muda itulah yang nantinya akan mengisi posisi-posisi penting di Papua di masa depan.
Orang-orang seperti Rangel dan Melkion harus terus dimunculkan. Universitas di luar Papua pun seharusnya bisa berkontribusi disini. Anak-anak Papua yang kuliah di kampus-kampus ternama bisa diorbitkan dan dibina untuk menjadi aktivis-aktivis kampus. Disinilah peran kita sebagai senior di kampus. Jika ada mahasiswa baru asal Papua di kampus dan jurusan kita masing-masing, tanamkan niat baik kita untuk mendidik mereka menjadi aktivis. Cuci otak mereka, tentu saja dengan semangat dan niat yang baik. Pengalaman menjadi aktivis akan menjadi modal yang berharga bagi mereka dan bisa menyadarkan mereka untuk segera kembali ke kampung halaman membangun Papua.
Pada akhirnya tanggung jawab membangun Papua bukan hanya menjadi milik pemuda Papua saja. Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama. Siapapun yang memiliki teman pemuda Papua, kita bisa saling menguatkan, saling menginspirasi dan saling mendukung satu sama lain. Nasib tanah Papua ada di pundak kita semua, pemuda Indonesia. Saya selalu percaya bahwa jika Papua akan sejahtera, mandiri dan makmur, Indonesia akan Berjaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s