Benarkah Konflik Internal Sebabkan Kematian Ketua KNPB Sorong?

Ilutrasi-Pembunuhan

Martinus Yohame, Ketua Komite Nasional Papua Barat Wilayah Sorong, diduga merupakan mayat yang ditemukan tewas dalam karung oleh nelayan di Pulau Nana, Distrik Doom, Kabupaten Sorong. Temuan mayat pada 26 Agustus 2014 tersebut, selanjutnya menyisakan misteri siapa yang lakukan pembunuhan terhadapnya.

Aktivis yang dikenal idealis dalam memperjuangkan referendum bagi Papua, diperkirakan telah tewas sejak dirinya menghilang pada tanggal 20 Agustus 2014. Sebelumnya, tanggal 19 Agustus 2014, Martinus mengadakan acara konferensi pers bersama pengurus KNPB lainnya pada pukul 15.00 WIT di depan kantor Wali kota Sorong dalam rangka pemberian keterangan jelang kedatangan SBY ke Raja Ampat.

Beredar kabar bahwa setelah acara konferensi pers tersebut, sekitar pukul 21.00 WIT, Martinus menelpon salah satu aparat TNI dan selanjutnya melakukan pertemuan dengan aparat tersebut. Usut punya usut, pertemuan yang dirancang oleh Ketua KNPB tersebut dalam rangka meminta uang sekitar 100 juta dan mengancam apabila uang tersebut tidak diberikan, maka dirinya beserta teman-teman KNPB akan melakukan aksi besar-besaran di Bandara Sorong ketika SBY mendarat nanti. Namun, keinginan bertolak dengan kenyataan. Aparat TNI tersebut tidak bisa memberikan uang yang diminta, karena permintaan dananya cukup besar.

Sepertinya pertemuan tersebut terdengar oleh teman-teman seperjuangannya di KNPB, sehingga mereka berencana melakukan rapat tertutup pada tanggal 21 Agustus 2014 dengan sebarkan pesan sms. Anehnya, rapat yang seharusnya dimulai sekitar puku l15.00 WIT, justru gagal terlaksana karena Martinus, Yali Komblo dan Jack Badai (Jubir KNPB Sorong) tidak hadir. Padahal undangan rapat tertutup tersebut tersebar atas arahan Martinus sendiri.

Ketidakhadiran Martinus Yohame diduga menimbulkan perselisihan di internal KNPB. Martinus Yohame dianggap telah menerima dana 100 Juta dan tidak dibagikan kepada pihak yang mengetahui sehingga timbul perselisihan sampai dengan pembunuhan.

Sementara itu, sesuai hasil pengamatan dokter, AKBP Muhammad Nasir (Kapolres Kab. Sorong) menjelaskan bahwa mayat tersebut mengalami luka di dada 1×1 cm kedalaman 6 cm, pangkal paha 2×2 kedalaman 11cm. Namun belum ada visum et repertum dan jika luka tembak pasti akan tembus.

Pihak keluarga menolak dilakukan visum terhadap mayat tersebut dengan alasan tertentu. Seharusnya, tidak perlu memunculkan sikap penolakan untuk dilakukannya visum terhadap mayat yang ditemukan, agar kebenaran benar-benar terungkap. Pasalnya, 25 orang dari Wamena yang mengaku pihak keluarga untuk mengambil mayat terkesan terdapat upaya untuk menutupi penyebab kematian korban dan menciptakan situasi agar seolah-olah aparat keamanan yang melakukan pembunuhan.  Dugaan terjadinya konflik internal semakin menguat, karena beberapa orang terdekat Martinus Yohame tidak datang ketika upacara duka.

Kini, semua merelahkan Martinus pergi dan berdoa agar diterima di sisi-Nya, serta berharap kebenaran yang sejati terungkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s