Penangkapan Warga Negara Prancis di Papua

Wartawan-Asing

Papua yang merupakan daerah Indonesia timur, sepertinya bakal kembali mendapat sorotan dunia. Pasalnya, baru-baru ini dua WN Prancis ditahan oleh imigrasi Papua karena menyalahi ijin visanya.
Ancaman yang ada di papua adalah gerakan separatisme-nya yang mengganggu keamanan dan ketertiban daerah papua. Gerakan separatisme ini meminta bantuan dari berbagai pihak internasional untuk membantunya terbebas dari Indonesia. Dengan kata lain, gerakan ini menginginkan untuk keluar dari Indonesia.
Bukti bahwa adanya bantuan asing yang masuk ke Indonesia adalah ditangkapnya wartawan asing yang sedang meliput gerakan bersenjata atau bisa disebut kelompok separatis. Mungkin pembaca bingung dengan kejadian ini. Beribu pertanyaan pasti keluar dengan adanya penangkapan ini. Pertanyaan yang paling krusial adalah kenapa wartawan ini ditangkap? Memangnya salah apa mereka?.
Berbagai protes pun di turunkan oleh orang-orang yang tidak mengerahui bagaimana seluk beluk permasalahan ini. Mereka memprotes tidak adanya HAM di Indonesia, ada tindakan tidak manusiawi, atau bahkan Indonesia dianggap Negara tanpa hukum.
Perlu pembaca ketahui, penangkapan ini dilakukan tidak semata-mata ada wartawan yang sedang meliput kemudian di tangkap. Jadi, penangkapan ini bisa dibilang tanpa sengaja. Bagaimana tidak, tanggal 6 agustus 2014 aparat keamanan gabungan TNI dan Polri sedang mencari seorang pemberontak atau salah seorang kelompok separatisme yang bernama Ariki Wanimbo. Dia merupakan orang yang menyuplai amunisi kepada kelompok separatisme pimpinan Enden Wanimbo.
Pada saat penggerebekan dilakukan, petugas terkejut karena ditempat itu ada dua orang turis. Tidak banyak Tanya, langsung diamankan kedua turis tersebut dan di bawa ke kantor.
Pada saat ditanya, kedua orang asing tersebut mengaku sebagai wartawan dari Arte TV (salah satu stasiun TV perancis). Dan pada saat dilakukan pemerikasaan terhadap dokumen-dokumen terkait, dia tidak ada ijin untuk melakukan peliputan. Ditambah lagi, dua orang asing yang bernama Charles Thomas Dandeis dan Loiuse Maria Valentin Bourat ini melakukan peliputan di daerah yang berbahaya atau potensi konflik. Visa dari kedua orang ini adalah visa turis atau visa wisata. Jadi tidak alasan lagi untuk mengelak. Pihak kepolisian yang melakukan penangkapan tidak menahannya dan langsung menyerahkan kepada kantor imigrasi di jayapura.
Dengan adanya kejelasan ini, pembaca bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Secara jelas dua orang ini berada pada tempat supplier amunisi gerakan separatis. Dan ketika dimintai dokumen-dokumennya tidak lengkap sama sekali. Pembaca bisa memikirkan apa yang dilakukan kedua orang tersebut.
Dengan adanya kejadian ini, berbagai protes dilakukan oleh orang-orang yang pro terhadap separatisme papua. Beberapa contoh protes yang terjadi adalah
• Orang yang mengklaim diri sebagai Panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap VII Lapago, Erimbo Enden Wanimbo
“Kami protes karena Indonesia menangkap wartawan yang melakukan tugas jurnalistiknya. Ini satu bukti Indonesia tidak memberikan kebebasan kepada wartawan dan pegiat Hak Asasi Manusia (HAM). Ini berarti tidak ada demokrasi,”
• Pendiri Free West Papua Campaign (FWPC) Benny Wenda
“Pihak militer Indonesia telah menangkap dua orang jurnalis Perancis yang mencoba memberikan informasi kepada dunia, apa yang sedang terjadi di West Papua. Indonesia tidak mau dunia tahu tentang West Papua.”
Pembaca bisa menilai sendiri apa tujuannya dari protes tersebut. Mengapa protes dilakukan oleh-oleh orang tersebut. Tentunya hal itu dilakukan untuk mencari dukungan agar papua dibebaskan dari Indonesia. Dengan kata lain hal ini merupakan protes berunsur politis.
Penulis menilai bahwa protes tersebut tidak perlu dilakukan karena membela orang yang jelas-jelas salah. mengingat pernyataan Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono.
“Ditreskrimsus Polda Papua akhirnya menetapkan dua orang jurnalis asal Perancis an. Charles Thomas Dandeis umur 40 tahun dan Loiuse Maria Valentin Bourat, umur 29 tahun sebagai tersangka, karena telah melakukan kegiatan peliputan ilegal di daerah rawan aksi penembakan seperti Puncak Jaya dan Lany Jaya tanpa ijin yang berwenang. Pihak Polda Papua juga telah melakukan kordinasi dengan pihak imigrasi guna mengetahui bagaimana perusahaan bisa menugaskan mereka untuk melakukan kegiatan ilegal di Kab. Lanny Jaya dan Kab. Puncak Jaya.”
Sedangkan pernyataan dari Kepala Imigrasi Jayapura Gardu Ditiro Tampubolon adalah “indikasi pelanggaran keimigrasian yaitu dia masuk menggunakan visa turis, namun setelah berada di Papua mereka melakukan kegiatan jurnalistik di Wamena Kab. Jayawijaya. Artinya kedua WNA tersebut menyalah gunakan ijin visanya.”
Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, pembaca dapat menilai apakah wartawan sungguhan dua orang asing tersebut? ataukah orang yang membantu gerakan separatis papua selama ini? Ataukah orang yang mensuplai amunisi ke papua? Keamanan dan ketertiban papua selama ini susah terwujud dengan adanya kejadian-kejadian seperti ini. Jika pertanyaan diatas benar, maka dapat disimpulkan kemerdekaan papua bukanlah keinginan orang papua sendiri melainkan keinginan orang berkepentingan. Terutama Negara-negara yang mengincar kekayaan papua.
Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika, mari kita bersama selamatkan saudara kita dari timur. Mereka juga bangsa Indonesia yang membutuhkan bantuan kita semua untuk mendapatkan keamanan dan ketertiban masyarakat Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s