Separatisme di Papua, Kemerdekaan sebagai ‘pintu gerbang’ kehancuran Papua

Beberapa orang menuntut kebebasan. Bagus. Saya bisa mengerti, kebebasan adalah salah 1 esensi terdasar seorang manusia. Kebebasan juga sangat diperlukan untuk mekanisme saling mengoreksi. Saya dukung penuh.

Namun, beberapa orang menuntut “Kemerdekaan.” Saya taruh di dalam tanda kutip sebab kemerdekaan ini adalah kemerdekaan politis, mendirikan negara baru. Khusus untuk Indonesia, teriakan meminta kemerdekaan paling banyak disuarakan dari daerah paling Timurnya, Papua.

Maaf, saya tak bisa mendukungnya. Argumen bahwa kemerdekaan politis Papua itu adalah ide buruk terlalu kuat. Berikut adalah alasan²nya …

1) Kemerdekaan meningkatkan risiko konflik

Paul Collier & Anke Hoeffler sudah melakukan penelitian kuantitatif tentang risiko konflik. Hasil penelitian mereka jelas: makin kecil sebuah negara, makin besar risiko konfliknya. Oh iya, risiko konflik juga meningkat ketika daerah tsb memiliki kekayaan alam. Jadi, kita bisa mengasumsikan seandainya Papua merdeka, daerah tsb akan mengalami konflik yang lebih parah daripada konflik yang ada saat ini.

2) Kemerdekaan BUKAN JAMINAN penghapusan korupsi

Terlalu sering para “pejuang” separatisme menggunakan korupsi pemerintah saat ini untuk mengobarkan kebencian. Lihat saja ke negara² baru yang ada di seluruh dunia. Banyak di antara mereka terjebak dalam pemerintahan korup SETELAH mereka merdeka. Zimbabwe adalah contoh terextrimnya. Mau jadi Zimbabwe?

Kalau anda berpikir “Biar melarat asal merdeka!” langsung ke point #4.

3) Kemerdekaan MENURUNKAN daya tawar

Semua orang dengan akal sehat setuju kontrak pertambangan di daerah Papua itu tak adil. Seandainya Papua merdeka, kontrak tak adil itu memang null and void alias tidak berlaku lagi. Namun, memangnya kontrak baru pasti akan menguntungkan rakyat Papua? Sebaliknya, pemerintah Papua akan memiliki posisi tawar yang lebih lemah daripada pemerintah Indonesia, sebab mereka CUMA mewakili rakyat Papua, bukan 240 juta rakyat Indonesia.

Seandainya pemerintah baru memilih melakukan nasionalisasi sumber² daya alam mereka, kita kembali ke masalah #2.

Oh iya, pengelolaan sumber daya alam juga BUKAN CUMA masalah korupsi, tapi masalah ekonomi makro maupun mikro. Kalaupun pemerintahnya bersih, tapi tak mengerti ekonomi, bakalannya melarat juga. Ujung²nya, balik lagi ke posisi tawar.

4) Menuntut Kemerdekaan itu sebetulnya secara filosofis adalah rasis.

Semua pasti sadar dan setuju bahwa pendapat “Kita adalah etnis penguasa, etnis lokal itu tak bisa dipercaya” adalah rasis. Namun, memangnya anggapan bahwa “semua orang non-Papua cuma akan memeras orang Papua” itu tidak rasis? Memangnya berpikir “Dia itu sebangsa dengan saya, dia tak mungkin mengkorupsi uang pajak saya!” itu tidak rasis?

Terlalu sering kita menerapkan standard ganda dengan berpikir cuma yang kuat yang bisa berpikir & bertindak rasis. Nope. Yang lemahpun bisa rasis. Dan rasisme mereka juga sama salahnya. “Two wrongs doesn’t make a right.” Daripada sibuk menerapkan rasisme balik, lebih baik HAPUSKAN RASISME seandainya ada rasisme di pemerintah pusat.

Masih berpikir lebih baik merdeka daripada makmur di bawah negara lain? Masih berpikir “Biar melarat asal merdeka”? LANJUT!!

5) “Biar Melarat asal merdeka” terdengar heroik, sayangnya …

bukan si pemimpin yang melarat. Rakyatnya yang melarat. Sadar, bukan cuma politikus dari ras atau etnis lain yang bisa memanfaatkanmu, SEMUA POLITIKUS bisa melakukannya. Oh, anda pikir politikus dari ras/etnis lain lebih mungkin membuat rakyat anda melarat? Balik lagi ke poin 4: berarti anda rasis.

6) Intinya: Kemerdekaan malah membuat proses perbaikan lebih panjang, lebih sulit

Skenario kemerdekaan Papua:
Situasi buruk saat ini -> Perjuangan kemerdekaan yang berat -> Kemerdekaan -> Perjuangan berat melawan korupsi & ketidak mampuan -> kemakmuran

Skenario Papua tetap berada dalam NKRI:
Situasi buruk saat ini -> Perjuangan berat melawan korupsi & ketidak mampuan -> kemakmuran

Sudah jelas bahwa skenario kemerdekaan itu lebih rumit, dan sulit? Jadi, daripada menghabiskan waktu, energi, dan bahkan nyawa untuk memperjuangkan kemerdekaan, langsung saja gunakan semua itu untuk melawan korupsi dan ketidakmampuan pemerintah NKRI. Bukan cuma Papua, rakyat di Jawa, Sumatera, Bali, dan pulau² lain juga menderita karena korupsi dan ketidak mampuan pemerintah pusat. Pemerintah NKRI yang bersih dan berkemampuan akan menguntungkan semua rakyat Indonesia. ITU yang harus kita perjuangkan, bukannya kemerdekaan daerah-daerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s