Menyoal Peresmian Kantor Free West Papua Campaign di Oxford Inggris

Suatu sore yang berawan di Oxford Inggris, sekitar 60 orang berkumpul di 106-108 Cowleg Place, untuk menghadiri undangan dalam acara peresmian kantor Free West Papua Campaign atau disingkat FWPC. Pembukaan kantor tersebut digagas seorang aktivis Papua merdeka yang lari dari Indonesia sekitar akhir tahun 2006, bernama Benny Wenda. Kejadian tersebut sebenarnya tidak banyak diketahui khalayak Inggris, karena hampir tidak ada pemberitaan media. Meskipun demikian, media Indonesia justru memberitakan dengan bombastis. Disampaikan bahwa aktivis Papua merdeka di luar negeri telah berhasil membuat kantor perwakilan resmi dan mendapatkan dukungan dari pemerintah lokal Oxford dengan meresmikan kantor tersebut. Bahkan beberapa media menyatakan bahwa OPM kini telah resmi berkantor di Inggris. Tentu saja, motif media dalam menjual berita tersebut disambut meriah oleh masyarakat Indonesia. Tanpa tahu fakta sesungguhnya, muncul hembusan kabar bahwa Papua akan segera merdeka.
Kehadiran Mohammed Abbasi selaku pejabat sementara Lord Mayor atau setingkat Walikota menuai sambutan meriah di Papua. Lalu Siapakah Mohammed Abassi? Pejabat ini diketahui belakangan sebagai pejabat sementara, yang menduduki jabatan Walikota, setelah pejabat sebelumnya yaitu Alan Armitage mengundurkan diri, namun Dee Sinclair sebagai penggantinya baru berkantor mulai Mei 2013. Sangat mungkin para aktivis memanfaatkan ketidaktahuan Abbasi sehingga memunculkan kesan selama ini Pemerintah Oxford mendukung kegiatan Papua merdeka.

Terlihat dari hubungan bilateralnya dengan Indonesia, Inggris merupakan negara yang sangat menghormati kedaulatan Indonesia, kerena pasti memiliki kepentingan nyata yang luar biasa besar. Namun, sebagai bagian dari negara Britania Raya, sistem politik dasar bagi Inggris adalah monarki konstitusional dan sistem parlementer, sehingga memungkinkan adanya perbedaan pendapat dengan pemerintah pusat.

Hadirnya beberapa warga Inggris pendukung Papua merdeka seperti Andrew Smith, Jennifer Robinson dan Charles Forester dianggap sebagai kekuatan besar, sebenarnya, ketiga aktivis dan para simpatisan yang mendukung aksi tersebut memang mendukung gerakan kemanusiaan yang bukan hanya Papua, tapi juga gerakan Free Tibet, mendukung Suku Kurdistan Iraq, dan kegiatan lain, sehingga melihat hal tersebut Papua bukanlah concern utama mereka.

Seorang warga London asal Indonesia yang merupakan mantan penyiar BBC London menilai, Pemerintah Inggris dan publik Inggris bahkan tidak memiliki perhatian besar terhadap aktivitas Papua merdeka di Inggris. Mantan jurnalis ini bahkan menyatakan bahwa kegiatan yang berbau aktivisme suatu kelompok melawan otoritas negara di Inggris memang terpusat di Oxford, sebagai Universitas tertua di Inggris. Kampus Oxford merupakan sentra aktivis yang menyuarakan dukungan pada perjuangan Tibet, Kurdistan, Aaung San Su Kyi, dan lain-lain. Namun di Kota Oxford yang berjarak sekitar 90 km dari London tersebut, hanya sedikit orang yang mengerti permasalahan Papua, apalagi memberikan dukungan. Mengemukanya aktivitas di Oxford disampaikan juga disebabkan persaingan lama antara kampus Oxford dan Cambridge yang lebih konservatif, sehingga wajar saja iklim di sana cenderung lebih kondusif bagi peresmian kantor FWPC yang cenderung tidak sepaham dengan Pemerintah Inggris. Setelah lebih dari 30 tahun hidup di Inggris, ia menilai bahwa aktivitas separatis Papua di Inggris bukanlah suatu hal yang signifikan membuka arus dukungan internasional terhadap perjuangan segelintir orang dalam FWPC, namun hal tersebut dapat menjadi perhatian dalam peresmian Kantor FWPC merupakan gangguan dalam hubungan bilateral Indonesia – Inggris, kerena selama ini terlihat bahwa Inggris merupakan negara yang mendukung kedaulatan Indonesia dari Merauke sampai Sabang. Dukungan pejabat sementara Lord Major Oxford Mohammed Abbasi, merupakan dukungan seremonial, dan tidak mewakili sikap politik suatu daerah, apalagi negara. Bahkan peresmian kantor tersebut tidak diketahui masyarakat dan Pemerintah Inggris, karena tidak ada pemberitaannya, baik di media cetak maupun elektronik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s