Kebohongan Aktivis Papua di Luar Negeri

“Di Irlandia Utara, setiap ruas jalan selalu diperiksa. Tetapi di Papua, bepergian di waktu malam, tanpa gangguan sedikitpun. Apalagi alam dan budayanya sangat indah menawan untuk liburan,” demikian pengakuan Millie Mcdevit (Staf Khusus Bagian Politik Kedubes Inggris) dalam kunjungan khusus ke Kapolda Papua Irjen (Pol) Tito Karnavian di Jayapura di tahun 2012 lalu.

Kesaksian Mcdevit tidak sampai disitu. Ia telah beberapa kali mengelilingi wilayah Papua, khususnya di Jayapura yang selama ini diisukan rawan dan penduduknya jauh dari rasa aman dan selalu mendapatkan perlakuan diskriminatif dari Pemerintah Indonesia termasuk pihak TNI/Polri.

Menurut Mcdevit ternyata informasi itu tak benar adanya, bahkan situasinya sangat berbeda jauh”. Karenanya, pihaknya akan menyampaikan informasi yang sebenarnya kepada pemerintah Inggris, bahwa situasi di Papua aman dan kondusif.
Siapakah kelompok penyebar Isu sesat itu?

Kuat dugaan saya, pernyataan Staf Khusus bidang Politik Kedubes Inggris di atas, erat kaiatannya dengan keberadaan kelompok aktivis Papua merdeka di Inggris pimpinan Benny Wenda. Kita tahu, Benny cs memiliki sebuah lembaga bernama Free West Papua Campaign (FWPC) yang bermarkas di London, Inggris. Dari namanya, lembaga ini berfungsi mengkampanyekan Papua merdeka di Luar Negeri.

Mereka sering menggunakan modus black campaign dengan tujuan mendiskreditkan Pemerintah Indonesia di mata dunia internasional. Hal itu bisa kita ketahui dari aksi yang mereka lakukan selama ini. Dan yang paling tampak ketika kunjungan terakhir Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono ke Inggris tanggal 31 Oktober hingga 2 November 2012. Kunjungan ini atas undangan Ratu Elizabeth II, untuk yang merayakan 60 tahun tahta Elisabeth II sebagai Ratu Inggris.

Sebelum kedatangan SBY ke London, melalui situs resmi dan akun Facebook-nya Free West Papua Campaign mempublikasikan wanted list terhadap Presiden SBY dan menawarkan imbalan sebesar Rp 770 juta kepada siapa saja yang berani menangkap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke Inggris waktu itu.
FWPC menuduh Presiden SBY telah mendalangi pembunuhan (genosida) yang menyebabkan lebih dari 500 ribu orang Papua tewas.

Selain memiliki FWPC, kelompok Benny Wenda juga sudah membentuk lembaga advokasi yang dikenal dengan nama International Lawyers for West Papua (ILWP). Sudah beberapa kali lembaga ini menggelar seminar yang mereka klaim sebagai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Oxford, London. Namun ‘KTT’ itu selalu sepi pengunjung karena materi yang dibahas tak jauh dari isu bohong genosida di Papua dan tema-tema kampanye hitam lainnya.

Barangkali atas alasan itulah, Pemerintah Inggris lalu menugaskan staf Kedubesnya di Indonesia untuk mengkonfirmasi langsung situasi yang sebenarnya terjadi di Papua. Dan jawaban dari lapangan sebagaimana dilaporkan Mcdevit: Papua adalah suatu wilayah di Indonesia dan Asia Tenggara yang aman dan kondusif, berbeda dengan informasi dari kelompok-kelompok tertentu kepada pemerintah Inggris.

Nah, jika sudah ketahuan bahwa informasi ke Pemerintah Inggris selama ini bohong, apa tindakan Pemerintah Inggris kepada para penyebar isu bohong itu? Sebagai bangsa yang besar dan sedang berkembang, kita hanya bisa bersikap wait and see, sambil terus berbenah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s