SEPARATIS, SEBUAH PILIHAN POLITIK YANG SALAH KAPRAH

Ada sebuah lagu yang popular di tahun 1970-an, dibawakan oleh group band dalam negeri yang syairnya menceritakan tentang suburnya kondisi alam Indonesia. Tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman, menggambarkan demikian suburnya tanah di Indonesia, dan lautanpun seolah kolam susu. Memang demikianlah adanya, digambarkan sebagai zamrud di khatulistiwa, alamnya subur dan kaya dengan hasil hutan, lautnya memberi kekayaan hayati yang bermanfaat dan bernilai tinggi, serta perut bumi yang banyak mengandung kekayaan alam tambang dan mineral yang tidak ternilai jumlah dan harganya. Artinya, kekayaan bangsa Indonesaia baik potensi maupun aktual sebenarnya sangat besar dan sangat cukup untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Tetapi apa yang terjadi dengan bangsa Indonesia sejak merdeka tahun 1945 hingga saat ini ?

Persoalan hidup berbangsa dan bernegara ternyata tidak hanya persoalan bagaimana mengurus kekayaan alam yang melimpah itu untuk kesejahteraan rakyat. Persoalan-persoalan lain, justru sedemikian mendesak dan bergerak dari hari ke hari, sehingga kekayaan alam menjadi bagian kecil urusan bangsa. Masalah ideologi, menjadi demikian penting, karena pasca kemerdekaan tentu terjadi perubahan cara hidup. Mesti ada nilai-nilai baru yang digunakan sebagai aturan kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Beberapa ideologi pernah dan terus dicoba di negeri ini, baik nasionalisme, ideologi keagamaan, demokrasi dll, dalam rangka kehidupan yang sesuai dengan jati diri bangsa ini. Adalah Pancasila, walaupun belakangan gregetnya dirasakan berkurang sehubungan dengan perkembangan global. Yang kedua adalah faktor ekonomi, yang dirasakan oleh sebagian masyarakat tidak berpihak pada mereka yang belum sempat menikmati kesejahteraan. Sementara di bagian masyarakat yang lain, penguasaan faktor ekonomi demikian kuatnya nampak di depan mata. Ada monopoli, konglomerasi dan bentuk-bentuk lainnya yang berujung pada kesimpulan bahwa ”yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”. Lalu kemana saja kekayaan alam yang bak zamrud di khatulistiwa itu berada, untuk siapa saja, seluruh rakyat atau segelintir orang saja kah? Ada keanehan, sementara kekayaan alam berlimpah di suatu tempat, tetapi masyarakat di sekitarnya tetap miskin. Wajar kalau kemudian timbul kecemburuan sosial, terlebih mereka tidak mendapat informasi yang memadai tentang apa yang terjadi di sekitarnya, kecuali bertruk-truk atau berkapal-kapal kekayaan alamnya diangkut ke luar daerah entah kemana. Kemudian faktor politik, dinamika yang terjadi seolah tidak pernah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengekspresikan aspirasi dan kepentingannya. Pemilihan umum yang selalu mengundang partisipasi masyarakat, selesai begitu perolehan suara diumumkan. Masyarakat kembali dilupakan dan mau tidak mau hanya bisa menghitung dan menunggu realisasi janji-janji elit politik di saat kampanye.

Lalu kenapa kemudian muncul ide separatis dalam menghadapi situasi seperti itu. Pertama, karena adanya primordialisme. Semangat kesukuan/kedaerahan yang luar biasa di kalangan masyarakat, muncul akibat tekanan yang dirasakan terus menerus. Gunanya adalah untuk mempertahankan eksistensi diri, dan ini bersifat alamiah. Kedua, intervensi asing. Hampir setiap analisa terhadap kasus-kasus yang mengarah pada separatisme, adalah adanya intervensi pihak asing. Tanda-tandanya pun kasat mata, ada lembaga-lembaga atau pribadi-pribadi dari negara lain, lalu-lalang dan melakukan aktivitas apapun namanya, seperti pembelaan HAM, di wilayah-wilayah yang sarat gejolak politik, ideologi dan ekonomi.

Solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut sebenarnya juga dapat bertumpu pada tiga hal, yakni di bidang ideologi, politik dan ekonomi. Mesti dibangun sebuah ideologi yang diterima masyarakat, yang mampu memberikan tatanan kehidupan yang adil, bermartabat dan mensejahterakan. Persoalannya di sini mungkin bukan apakah sudah ada atau belum ideologi itu, tetapi lebih pada implementasinya dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Terjadilah perlawanan-perlawanan yang seharusnya tidak perlu terjadi, terlebih pada ideologinya yang sebenarnya sudah tidak ada masalah, karena permasalahannya adalah terletak pada pelaksanaannya, pada orang-orang yang tidak taat pada ideologi itu sendiri dan melakukan hal-hal yang merugikan pihak lain. Kemudian di bidang politik, masyarakat menilai seringkali kekuasaan yang di pegang para penguasa tidak pernah berpihak padanya, tetapi kekuasaan adalah untuk menguasai mereka dan mengatur mereka. Masyarakat menginginkan ruang politik yang luas, tetapi yang diperoleh hanyalah kesempatan dalam pesta demokrsi lima tahunan, sementara kesempatan untuk berdialog dalam menyuarakan aspirasi dan kepentingan masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan kondisi politik yang memberikan kesempatan luas bagi masyarakat untuk berperan serta menentukan kebijakan negara melalui mekanisme yang ada. Yang ketiga di bidang ekonomi, sebenarnya akses ekonomi masyarakat sudah semakin terbuka dengan adanya otonomi daerah. Namun perlu diingatkan, bahwa pengelolaan otonomi daerah yang tidak tepat, tidak saja tetap membiarkan masyarakat pada ketertutupan terhadap akses-akses ekonomi di daerah, seperti hasil laut dan hutan, tetapi dapat mendorong pada munculnya egoisme kedaerahan yang dalam tingkat tertentu rawan menjadi bibit-bibit separatis.

Alternatif lain yang ekstrim kemudian menjadi pilihan sekelompok orang adalah memisahkan diri dengan NKRI, hidup sendiri, merdeka mengatur sendiri kehidupan. Apakah ini alternatif yang tepat? Ada hal-hal yang mereka lupakan, yaitu mengenai SDM yang mereka miliki, logika dan etika politik internasional, serta adanya intervensi asing yang selalu memprovokasi mereka bahwa separatis merupakan alternatif yang harus diwujudkan. Mereka lupa, bahwa jika benar-benar merdeka, mereka akan memasuki tatanan sosial politik internasional dan mereka akan dikuasai dan ”dimakan” oleh negara-negara yang selama ini menyokong gerakan mereka untuk merdeka. Argumentasi kesejarahan yang digunakan untuk mendukung separatisme pun, akhirnya hanya menjadi tumpukan buku yang sudah tidak lagi dijadikan rujukan. ****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s